Hacker Rusia yang Retas Pemilu AS Terjegal di Spanyol
CNN Indonesia
Senin, 10 Apr 2017 19:23 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Spanyol menyebut negaranya telah menahan ahli komputer Rusia yang diduga terlibat peretasan Pemilu Presiden Amerika Serikat, Senin (10/4).
Piotr Levashov, diringkus di Bandara Barcelona dan kini sudah dipindahkan ke Madrid.
Melansir AFP, pihak AS telah meminta Levashov diekstradisi. Alasannya, Levashov ‘diduga terlibat dalam peretasan pemilu di Amerika Serikat’.
Dalam jangka waktu 40 hari setelah penangkapan, Washington harus bisa menyerahkan bukti-bukti hukum yang kuat pada otoritas Spanyol, agar ekstradisi bisa dilakukan.
Sementara, Polisi Spanyol sendiri menyebut penangkapan Levashov didasarkan pada ‘komplain internasional’.
Sejak Januari, intelijen AS kerap menuding Rusia melakukan peretasan saat pemilu AS 2016 guna membantu mengatrol suara bagi kandidat Partai Republik, Donald Trump.
Trump, yang memenangkan pemilu pada November, langsung menyanggah hal tersebut. Tuduhan itu pun dibantah Moskow.
Adapun, saat diwawancara Russia Today, istri Levashov, Maria Levashova, mengatakan suaminya telah ditahan atas ‘perintah Amerika Serikat karena terkait dengan kejahatan siber’.
Polisi Spanyol, ujar Levashova, mengatakan suaminya ditangkap karena ‘sebuah virus yang dia ciptakan dan berkaitan dengan kemenangan Trump’.
Sebelumnya, pada pertengahan Januari, ahli komputer Rusia lainnya, Stanislav Lisov, juga menjadi buruan AS. Dia ditangkap di Bandara El Prat, Barcelona, saat hendak menaiki pesawat. Lisov kini menjadi tahanan di Spanyol.
Piotr Levashov, diringkus di Bandara Barcelona dan kini sudah dipindahkan ke Madrid.
Melansir AFP, pihak AS telah meminta Levashov diekstradisi. Alasannya, Levashov ‘diduga terlibat dalam peretasan pemilu di Amerika Serikat’.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, Polisi Spanyol sendiri menyebut penangkapan Levashov didasarkan pada ‘komplain internasional’.
Sejak Januari, intelijen AS kerap menuding Rusia melakukan peretasan saat pemilu AS 2016 guna membantu mengatrol suara bagi kandidat Partai Republik, Donald Trump.
Trump, yang memenangkan pemilu pada November, langsung menyanggah hal tersebut. Tuduhan itu pun dibantah Moskow.
Adapun, saat diwawancara Russia Today, istri Levashov, Maria Levashova, mengatakan suaminya telah ditahan atas ‘perintah Amerika Serikat karena terkait dengan kejahatan siber’.
Polisi Spanyol, ujar Levashova, mengatakan suaminya ditangkap karena ‘sebuah virus yang dia ciptakan dan berkaitan dengan kemenangan Trump’.
Sebelumnya, pada pertengahan Januari, ahli komputer Rusia lainnya, Stanislav Lisov, juga menjadi buruan AS. Dia ditangkap di Bandara El Prat, Barcelona, saat hendak menaiki pesawat. Lisov kini menjadi tahanan di Spanyol.