Korban Bertambah dalam Pekan Keempat Ketegangan Venezuela

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 25/04/2017 06:33 WIB
Ketegangan politis di Venezuela memasuki pekan keempat. Seorang pekerja pemerintahan ditembak mati sementara seorang lainnya dibiarkan terluka. Ketegangan politis di Venezuela memasuki pekan keempat. (REUTERS/Christian Veron)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya seorang tewas dalam ketegangan politis di Venezuela, Senin waktu setempat (24/4), sekaligus pekan keempat berlangsungnya protes anti-pemerintah yang menuntut pemilihan umum lebih cepat untuk mengganti Presiden Nicolas Maduro.

Seorang pekerja pemerintahan ditembak mati di Andean, Merida, dalam unjuk rasa kontra-protes untuk mendukung pemerintahan sosialis yang dipimpin Maduro. Sementara seorang lainnya mengalami luka tembak dan dibiarkan menghadapi situasi "hidup dan mati," kata ombudsman Tarek Saab, dikutip Reuters.

Kematian tersebut menambah panjang daftar korban tewas menjadi 11 orang, dalam kerusuhan yang dinodai penembakan bermotivasi politik dan benturan setiap hari antara pasukan keamanan bersenjata peluru karet dengan pemrotes yang melempari dengan bom molotov.
Setidaknya 10 orang juga meninggal dunia dalam penjarahan yang berlangsung di malam hari.


Selain itu, ada pula laporan belum terkonfirmasi dari partai oposisi yang menyebut dua korban tewas lain dalam protes di Barinas.

Pemerintahan Maduro menuding lawannya mencoba melakukan kudeta dengan kekerasan yang didukung oleh Amerika Serikat, sementara oposisi mengatakan sang Presiden adalah diktator yang membungkam protes damai.
Tuntutan utama oposisi adalah pemilihan umum, pembebasan pegiat yang dipenjara dan otonomi untuk kongres yang kini dikuasai oleh mereka. Namun, protes juga dipicu oleh krisis ekonomi yang melumpuhkan negara kaya minyak dengan populasi 30 juta orang ini.

"Perut saya kosong karena saya tidak bisa menemukan makanan," kata Jeanette Canozo, seorang ibu rumah tangga berusia 66 tahun yang juga mengatakan polisi menggunakan peluru karet terhadap para demonstran di Caracas, pagi harinya.

Para demonstran mengenakan baju berwarna kuning, biru dan merah seperti bendera Venezuela dan memegang spanduk mengecam kekurangan pasokan, inflasi dan kejahatan dengan kekerasan sambil berteriak: "pemerintah ini telah runtuh!"
Di Ibu Kota, mereka berarak dari beberapa titik ke jalan raya besar, di mana ratusan orang duduk, membawa tas berisi persediaan, bermain kartu, dan melindungi diri dari matahari dengan topi atau payung.

Di Tachira, dalam sebuah aksi duduk yang direncanakan di seluruh negara bagian Venezuela ini, beberapa bermain Ludo, sementara yang lain bermain bola atau menikmati teater jalanan.

Dalam protes di Bolivar selatan, seorang profesor memberikan kuliah soal politik sementara beberapa orang duduk bermain Scrabble dan yang lainnya memasak sup di atas api kecil di jalanan.

[Gambas:Video CNN]