Mereka yang Mengadu Nasib di Antara Gerbong Kereta

REUTERS/Alexandros Avramidis, CNN Indonesia | Rabu, 26/04/2017 17:05 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Imigran yang terlunta di Thessaloniki, Yunani, mengadu nasib di antara gerbong kereta. Mereka berusaha menuju Macedonia untuk hidup yang lebih baik. 

Para imigran dari Aljazair punya satu harapan saat meninggalkan negaranya: kehidupan yang lebih baik. Namun, saat tiba di Eropa, nasib lain menyambut mereka. Terlunta dan tanpa dokumen resmi, mereka bertahan hidup sebagai imigran gelap. 
Kota Thessaloniki di Yunani, merupakan saksi kehidupan keras yang harus dihadapi para imigran gelap. Mereka menjadikan kereta tua yang tak lagi terpakai sebagai rumah, tempat mereka berteduh.
Gerbong kereta, tentu saja bukan tempat tinggal yang layak bagi manusia. Kurangnya sumber makanan, air dan toilet membuat para imigran hidup dalam kondisi yang mengenaskan. 
Terkadang, mereka mencoba peruntungan untuk pindah ke kota lain dengan menumpang kereta yang lewat. Salah satunya, Mohamed Khaleuf dari Maroko, dia berupaya menyeberangi perbatasan Yunani-Macedonia untuk mengadu nasib di tempat baru.
Mereka menjadikan Thessaloniki sebagai basecamp. Berteduh dalam gerbong-gerbong usang yang ditinggalkan di rel kereta lama. Setahun sudah mereka tinggal di sana.
Bagi mereka yang ingin terus berjuang, kereta bukan hanya tempat tinggal, tapi juga tempat mereka menggantungkan harapan. Mereka akan menumpang setiap kereta yang lewat menuju Eropa Tengah, menyelusup di antara kompartemen atau bersembunyi dalam gerbong.
Jika beruntung, mereka bisa menyeberang tanpa diketahui. Jika tidak, mereka akan ditangkap oleh petugas perbatasan dan dikirim kembali ke Yunani. Mereka pun kembali ke Thessaloniki, untuk sekedar tidur dan beristirahat, sebelum kembali berjuang esok hari.
Iman, 39, salah satu imigran asal Maroko, yang tengah hamil 4 bulan berharap bisa menyeberang dengan selamat. Dia sudah tujuh bulan tinggal di Thessaloniki.
Lainnya, seorang imigran dari Aljazair menyebut luka di tangannya terjadi saat dia berusaha melompat ke kereta yang melaju kencang. Hingga kini dia masih di Thessaloniki, menyembuhkan diri, sebelum kembali berusaha menumpang kereta.
Sementara, Habib, 22, dan teman-temannya dari Aljazair, kembali ke Thessaloniki karena mereka tertangkap petugas di Macedonia karena tidak memiliki dokumen lengkap.
Lebih dari satu juta pengungsi dan imigran tiba di Eropa sejak 2015. Mereka mendarat di Yunani dari Turki, lalu menyebar ke wilayah Balkan menuju Jerman atau Austria. Namun, rute tersebut ditutup tahun lalu dan membuat lebih dari 60 ribu pengungsi terdampar di Yunani.