Pyongyang mengatakan, latihan militer itu dilakukan "di dekat objek-objek vital" wilayahnya, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang ingin meluncurkan serangan pertahanan diri membendung ancaman nuklir Korut.
"Provokasi militer yang sembrono ini hanya mendekatkan situasi di Semenanjung Korea ke ambang perang nuklir," ucap kantor berita pemerintahan Kim Jong-un, KCNA, Selasa (2/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Moon Sang-gyun, mengatakan latihan militer ini digelar untuk mencegah provokasi dan menguji kesiapan menghadapi kemungkinan uji coba nuklir Pyongyang di masa depan.
"Jika ada kesempatan bertemu dengannya, saya akan sangat merasa terhormat untuk melakukannya. Dalam kesempatan yang tepat, saya akan bertemu dengannya," ujar Trump dalam wawancara dengan Bloomberg News, Senin (1/5).
Walaupun begitu, Gedung Putih belum membeberkan rencana pasti pertemuan bersejarah kedua pemimpin negara yang saling bermusuhan ini. Juru bicara Gedung Putih, Sean Spicer, menuturkan pertemuan ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena Pyongyang perlu memenuhi sejumlah persyaratan sebelum menggelar pertemuan.
Lihat juga:Trump Buka Kemungkinan Bertemu Kim Jong-un |
Situasi di Semenanjung Korea kian memanas sejak awal 2017 lalu. Korut terus menjadi sorotan setelah pada awal tahun baru lalu, pemimpin tertinggi mereka, Kim Jong-un, memerintahkan penguatan program rudal balistik antarbenua (ICBM) negaranya.
Sepanjang tahun ini, Korut pun sudah meluncurkan sejumlah uji coba rudal, dua di antaranya mencapai perairan di dekat wilayah Jepang.
Merespons tindakan agresif Pyongyang, Washington pun akhirnya mengerahkan kapal induk USS Carl Vinson ke dekat perairan Korut. Kapal induk itu membawa sedikitnya 60 pesawat tempur dan ribuan pasukan angkatan laut AS.
Sebuah kapal selam pembawa peluru kendali milik AS, USS Michigan, pun telah berlabuh di Busan, Korsel, sejak Selasa (25/4) bersamaan dengan peringatan hari jadi militer Korut.