Keputusan ini disampaikan langsung oleh Ketua MILF, Murad Ebrahim, saat bertemu dengan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, pada Senin (29/5) lalu.
"Sejumlah kerja sama akan dilaksanakan antara pemerintah dan MILF," demikian bunyi pernyataan MILF sebagaimana dilansir dalam situs mereka, Luwaran, Selasa (30/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertempuran sengit yang sudah menewaskan puluhan orang ini bermula ketika militer Filipina melancarkan operasi untuk menangkap pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.
Ketika bentrokan pecah, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte langsung mendeklarasikan darurat militer. Namun dalam pertemuan ini, Duterte memastikan bahwa darurat militer itu bukan untuk melawan MILF.
"Presiden memastikan kepada para pemimpin MILF bahwa darurat militer bukan untuk melawan MILF, MNLF (Front Pembebasan Nasional Moro), atau NPA (Tentara Rakyat Baru), tapi untuk menumpas pemberontakan Maute dan kelompok teroris lain yang terinspirasi ISIS," tulis MILF, sebagaimana dikutip Inquirer.
MILF sendiri selama ini sudah beberapa kali melakukan perundingan damai dengan pemerintah. Namun, belum ada hasil pasti dari rangkaian perundingan tersebut.