Ricuh Nobar Turin, 1000 Terluka

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Senin, 05/06/2017 02:20 WIB
Ricuh Nobar Turin, 1000 Terluka Ledakan keras akibat kembang api menyebabkan kepanikan dan memicu kerusuhan di Turin, Italia, Sabtu (3/6). (REUTERS/Giorgio Perottino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya 1000 orang terluka, tujuh diantaranya luka parah, usai sebuah ledakan keras memicu kepanikan di Piazza San Carlo, Turin, saat ribuan penggemar Juventus menggelar acara nonton bareng (nobar) final Liga Champion antara Juventus dan Real Madrid.

Otoritas setempat menyebut kericuhan mendadak pecah 10 menit sebelum pertandingan berakhir.

Penonton panik karena mendengar ledakan keras dan beberapa penonton menyebut ledakan itu disebabkan oleh bom. Kepanikan itu menciptakan suasana yang kacau balau karena mereka semua berebutan keluar dari piazza, sehingga menyebabkan banyak orang terjatuh dan terinjak-injak. Sementara itu, usai mengadakan investigasi, otoritas menyebut ledakan disebabkan oleh kembang api.


Kendati otoritas menyebut seribu orang terluka dalam kericuhan itu, kebanyakan hanya menderita luka kecil. Meksipun demikian, terdapat tujuh orang yang dilarikan ke rumah sakit karena luka yang lebih serius.


Media lokal melaporkan bocah berusia tujuh tahun kini berada dalam kondisi koma karena luka dalam di bagian dada akibat terinjak-injak kerumuman.

“Kami mendengar suara keras, kemudian tiba-tiba kerumunan orang keluar bersamaan seperti ombak dan semua orang jatuh bertumpukan,” kata Luca, yang berada di lokasi kejadian, dikutip AFP.

“Orang-orang berteriak, mereka berusaha melompati orang lain dan saya melihat darah dari mereka yang jatuh dan tertimpa. Sangat mengerikan, ini seperti insiden Manchester yang terulang.”

Saksi mata lainnya Giulio mengatakan dia adalah salah satu yang tertimpa kerumunan orang.

“Semua orang sepertinya jatuh di atas saya. Saya terpisah dari teman-teman saya. Saya tidak tahu apa yang terjadi,” kata dia.


Fans Juventus lainnya, Filippo, segera berlindung di sebuah restoran di dekat Piazza San Carlo bersama keluarganya. “Mereka memberi kami minuman dan kami tinggal di situ sampai suasana tenang. Kemudian kami kembali ke lokasi untuk mencari sepatu milik putri saya,” tuturnya.

Geatan, saksi mata lain, menyebut kini warga mudah panik terhadap serangan teror.

“Suasananya sungguh tegang. Dengan segala yang terjadi akhir-akhir ini, wajar jika banyak yang panik dan ingin segera keluar mencari tempat aman,” terang Geatan.

Tidak hanya itu, kericuhan itu juga dianggap mengulang memori suram dari tahun 1985 yang dikenal dengan nama Tragedi Heysel, dimana 39 fans sepakbola tewas akibat tembok yang ambruk, sebelum pertandingan final Juventus melawan Liverpool.