Ikuti Negara Arab, Libya Turut Ceraikan Qatar

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 05/06/2017 17:51 WIB
Ikuti Negara Arab, Libya Turut Ceraikan Qatar Pemerintah Libya yang berbasis di Bayda turut memutus hubungan diplomatik dengan Qatar mengikuti Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir. (Foto: REUTERS/Hani Amara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Libya Mohamed Dayri mengatakan pemerintahannya yang berbasis di Bayda turut memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, menyusul keputusan serupa yang diambil sejumlah negara Timur Tengah, Senin (5/6).

Meski begitu, Dayri tak menjelaskan secara detail alasan pemerintahannya terkait langkah ini. Negara yang sudah lebih dulu memutus hubungan di Timur Tengah adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir dan Yaman.

Keempat negara itu memutuskan untuk menarik misi diplomatik dan kekonsuleran dari Doha lantaran khawatir akan keterlibatan Qatar yang diduga mendukung kelompok pemberontak hingga teroris seperti ISIS, Al-Qaidah, dan Ikhwanul Muslimin di Yaman.
Saudi menuding Qatar bersama Iran mendukung kelompok militan di wilayah Qatif dan Bahrain yang bermayoritaskan Syiah.


"Qatar mendukung beberapa kelompok teroris dan sektarian yang bertujuan mengganggu stabilitas di kawasan ini dan mempromosikan skema kelompok-kelompok tersebut melalu media secara terus-menerus," ucap kantor berita Saudi SPA yang mengutip pemerintah.

Saudi menyebut langkah ini diperlukan sebagai bentuk "perlindungan keamanan nasional dari bahaya terorisme dan ekstremisme."

Meski terpilih secara demokratis pada 2014 lalu, pemerintahan Libya di Bayda--bagian timur negara--memiliki kewenangan kecil di negara itu.
Pemerintahan Libya terbelah sejak mantan dikator Muammar Gaddafi tewas pada 2011 lalu, menyebabkan perang sipil antara dua kelompok politik yang berseteru untuk menguasai negara itu.

Pemerintah yang diakui dunia internasional saat ini memerintah di Bayda, setelah terusir dari ibu kota Tripoli oleh kelompok yang menamakan diri mereka Libya Dawn.

Pemerintahan Libya di Bayda juga bersekutu dengan kekuatan militer Khalifa Haftar.

Tentara Libya binaan Haftar (TNA) mulai berkembang di Libya sejak 2016 lalu dan telah berhasil mengambil alih fasilitas minyak bumi dan pangkalan militer di negara itu.
Baru-baru ini TNA juga berhasil menguasai kota-kota dekat oasis di wilayah Jufra dan Sabha.