Dua Pembajak Pesawat Libya Bawa Granat, Tuntutan Belum Jelas

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Jumat, 23/12/2016 21:17 WIB
Dua Pembajak Pesawat Libya Bawa Granat, Tuntutan Belum Jelas Anggota parlemen Libya mengungkapkan bahwa pembajakan pesawat, Afriqiyah Airways, dilakukan oleh dua pembajak yang membawa granat tangan. (Reuters/Darrin Zammit-Lupi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota parlemen Libya mengungkapkan bahwa pembajakan pesawat penerbangan internal Libya, Afriqiyah Airways, dilakukan oleh dua pembajak yang membawa granat tangan. Hingga kini belum jelas apa tuntutan para pembajak.

Dilaporkan Reuters, para pembajak bersedia membebaskan seluruh 111 penumpang pesawat bertipe Airbus A320 yang terpaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Malta pada Jumat (23/12) itu, namun menolak melepaskan 7 kru jika tuntutan mereka tidak dikabulkan.

Hadi al-Saghir, salah satu penumpang yang berada di pesawat itu, mengungkapkan bahwa Abdusalem Mrabit, anggota Parlemen Libya, menyatakan kepadanya bahwa dua pembajak berusia 20-an tahun dan merupakan etnis Tebu dari Libya selatan, wilayah di mana pesawat itu berangkat.


Para pembajak menyatakan kepada kru pesawat bahwa mereka pendukung Muammar Gaddafi, pemimpin Libya yang tewas dalam pemberontakan pada tahun 2011, menyebabkan negara itu terpecah menjadi dua faksi besar yang saling klaim pemerintahan.

Reuters melaporkan bahwa para penumpang mulai berjalan menuruni tangga dari pesawat itu.

Perdana Menteri Malta Joseph Muscat melalui akun Twitter-nya melaporkan bahwa kelompok pertama penumpang, yakni sekitar 25 orang, telah dibebaskan. Sementara 25 orang lainnya masih dalam proses pembebasan.

Sejumlah siaran televisi memperlihatkan tidak ada tanda-tanda serangan dalam pembebasan para penumpang.

Informasi soal pembajakan pertama kali diterima oleh menara pengawas penerbangan di Bandara Mitiga, Tripoli pada Jumat pagi, menurut laporan petugas keamanan kepada Reuters.

"Pilot melaporkan kepada menara pengawas di Tripoli bahwa mereka sedang dibajak, maka mereka kehilangan komunikasi dengannya," kata pejabat yang menolak identitasnya dipublikasikan kepada Reuters.

"Pilot berusaha sangat keras untuk mendarat di tempat tujuan, tetapi mereka (pembajak) menolak," ujarnya.

Aparat langsung mengambil posisi beberapa ratus meter dari pesawat saat mendarat di landasan.

Malta merupakan negara pulau kecil di kawasan Mediterania. Negara ini merupakan anggota Uni Eropa, berjarak sekitar 500 km sebelah utara dari Tripoli.

Perdana Menteri Malta Joseph Muscat berkicau, "Saya menerima informasi soal kemungkinan pembajakan dari penerbangan internal #Libya hingga dialihkan ke #Malta. Petugas Keamanan dan operasi darurat bersiaga."

Ia mengonfirmasi bahwa ada 111 penumpang, 82 di antaranya pria sementara 28 wanita dan satu bayi di pesawat itu. (ama)