ISIS Klaim Bertanggung Jawab Atas Serangan di Melbourne

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Selasa, 06/06/2017 05:45 WIB
ISIS Klaim Bertanggung Jawab Atas Serangan di Melbourne ilustrasi (Thinkstock/Ismagilov)
Jakarta, CNN Indonesia -- ISIS kembali mengklaim bertanggung jawab atas kejadian teror di Melbourne. Dalam penembakan Melbourne tersebut, pria bersenjata menyandera seorang perempuan dalam apartemen.

Akibat tragedi tersebut, baku tembak pun pecah dan melukai tiga orang petugas polisi. Namun pelaku ditembak mati oleh polisi dan sandera berhasil diselamatkan.

Mengutip AFP, polisi masih menyediki apakah kejadian tersebut terkait dengan terorisme atau tidak.


Beberapa jam kemudian, kantor berita Amaq, yang berafiliasi dengan ISI mengungkapkan bahwa pelaku serangan Melbourne di Australia adalah seorang tentara ISIS. Dia melakukan serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap warga negara koalisi.


Pihak berwenang mengatakan bahwa mereka belum menentukan apakah serangan di pinggiran kota tersebut terkait dengan terorisme. Namun polisi negara bagian Victoria mengatakan bahwa penyelidikannya mengarah ke sana.

"Kami memiliki komando anti-terorisme yang menangani hal tersebut dan bekerjasama dengan penyidik di departemen kriminal," kata wakil komisaris polisi Andrew Crisp kepada wartawan Senin malam.

Seorang saksi mata mengingat situasi mencekam tersebut. Dia mendengar adanya suara tembakan di pinggiran kota.

"Saya diberi tahu ada ledakan sekitar pukul 16.00. Saya pergi sebentar dan mendengar suara tembakan, sekitar 10 kali. Dan kami diberitahu bahwa ini adalah situasi penyanderaan," kata Will Reid penduduk setempat kepada Australian Broadcasting Corporation.

"Itu menakutkan, Anda sama sekali tidak menyangkanya di Brighton."

Pejabat Australia kini semakin khawatir dengan banyaknya ancaman serangan militan.

Pejabat mengatakan bahwa mereka sudah mencegah 12 serangan semacam itu sejak adanya peningkatan insiden pada September 2014. Sayangnya empat insiden terjadi, termasuk pembunuhan seorang pegawai polisi di Sydney pada 2015 oleh seorang anak lelaki berusia 15 tahun.

Dalam insiden terakhir, polisi menanggapi panggilan telepon ke layanan darurat yang mengungkapkan bahwa seorang pria terbunuh dan ada seorang sandera.