Perbatasan Diperketat, Jumlah Pembelot Korut Turun Drastis

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 13/07/2017 00:39 WIB
Perbatasan Diperketat, Jumlah Pembelot Korut Turun Drastis Korsel melaporkan pembelot Korut yang pergi ke negaranya turun drastis lantaran rezim Kim Jong-un terus memperketat perbatasan negaranya dengan China. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pejabat Korea Selatan melaporkan jumlah warga Korea Utara yang membelot dan melarikan diri ke negaranya menurun drastis dalam enam bulan terakhir, menyusul pengetatan penjagaan perbatasan antara negara paling terisolasi itu dengan China.

Berdasarkan data statistik yang dikumpulkan Kementerian Unifikasi Korsel, dari awal tahun hingga Juni kemarin, hanya ada sekitar 593 warga Korut yang membelot ke Korsel.

Jumlah ini turun sekitar 20.8 persen dari tahun 2016 dalam periode yang sama.
Sebagian besar pembelot merupakan wanita yakni sebanyak 85 persen. Para pria Korut lebih mudah terdeteksi untuk membelot lantaran bisa terlacak dari tempat kerja mereka.


"Pyongyang berupaya mempertahankan jumlah populasi mereka dan memperkuat kontrol perbatasan. Ini menambah risiko bagi para pembelot," tutur seorang pejabat kementerian itu, Rabu (12/7).

Diberitakan AFP, Kementerian Unifikasi Korsel menuturkan, sejak akhir 2015 lalu, Korut terus memperketat penjagaan perbatasan dengan China, membangun pagar listrik berkekuatan tinggi di sepanjang Sungai Tumen.

Selama ini, zona demilitarisasi (DMZ) yang memisahkan perbatasan Korut dan Korsel disebut sebagai tempat dengan pengamanan paling ketat di dunia. Imbasnya, tak banyak pembelot Korut yang menggunakan jalur itu untuk melarikan diri dari negaranya.
Selama ini, warga Korut kerap melarikan diri melalui perbatasan negara dengan China sebelum membelot ke Korsel. Itu pun, mereka masih berisiko dipulangkan jika tertangkap oleh otoritas China.

Hingga kini, terhitung sedikitnya 30.805 warga Korut telah membelot ke Korsel.

Sebagian dari mereka melarikan diri dari Korut sekitar tahun 1990-an saat negara di Asia Timur itu diterjang krisis kelaparan.

Seiring memuncaknya jumlah pelarian pada 2009 lalu, pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un memerintahkan sanksi keras terhadap para pembelot dan peningkatan penjagaan di perbatasan sejak 2011 lalu.