"ASEAN-China memiliki komitmen untuk menyelesaikan dan menyetujui kerangka CoC. Kami berharap para menlu nantinya akan mendukung dan mengadopsi kerangka CoC ini yang sebelumnya telah lebih dulu disepakati pejabat senior negara ASEAN-China," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Filipina, Robespierre Bolivar, Selasa (1/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah disepakati para menlu, kerangka CoC akan diserahkan kepada para pemimpin negara ASEAN dan China, yang akan menentukan dan menyetujui apakah negosiasi kode etik sebenarnya bisa dilangsungkan.
"Kami berharap pembicaraan CoC akan dimulai sungguh-sungguh setelah pertemuan para menlu nanti. Ini langkah yang sangat besar untuk mewujudkan kode etik untuk sengketa Laut China Selatan," ucap Bolivar seperti dikutip The Straits Times.
Sejak China mengklaim 90 persen wilayah di Laut China Selatan, perairan itu menjadi salah satu kawasan yang sangat rentan konflik. Klaim China tumpang tindih dengan pengakuan sejumlah negara lain di Asia Tenggara, seperti Filipina, Brunei, dan Malaysia.
Rencana pembentukan CoC ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2002 lalu dalam Declaration of Conduct of Parties in the South China Sea antara ASEAN dan China. Namun, kerangka CoC baru berhasil disahkan oleh pejabat tinggi kedua negara setelah 15 tahun bernegosiasi, tepatnya Mei 2017 lalu.
Pengesahan kerangka CoC ini diharapkan menjadi awal baik bagi ASEAN dan China untuk menyelesaikan dan mengimplementasikan kode etik tersebut ke depannya.