Duterte Deklarasikan Marawi Bebas dari ISIS

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 17/10/2017 15:45 WIB
Duterte Deklarasikan Marawi Bebas dari ISIS Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mendeklarasikan bahwa Kota Marawi sudah bebas dari ISIS, meski juru bicara militer mengatakan ada 20-30 militan yang masih menyandera 20 warga. (Reuters/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mendeklarasikan bahwa Kota Marawi sudah bebas dari cengkeraman ISIS, meski juru bicara militer mengatakan ada 20-30 militan yang masih melakukan perlawanan dan menyandera 20 warga.

"Dengan ini, saya mendeklarasikan Kota Marawi terbebas dari pengaruh teroris yang menandai dimulainya rehabilitasi," ujar Duterte kepada para tentara di Marawi, sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (17/10).

Pernyataan ini dilontarkan Duterte sehari setelah militer menewaskan tokoh yang disebut-sebut sebagai "emir" ISIS di Asia Tenggara, Isnilon Hapilon.

Dalam operasi tersebut, militer juga berhasil menewaskan Omarkhayam Maute, pemimpin kelompok militan Maute yang berafiliasi dengan ISIS.
Kematian kedua petinggi teroris itu menjadi tonggak berakhirnya perjuangan militer yang selama 148 hari menggempur ISIS di Marawi, memicu krisis dalam negeri terlama di Filipina selama beberapa tahun belakangan.

Juru bicara militer Filipina, Restituto Padilla, mengatakan bahwa meski pertempuran belum benar-benar berakhir, tapi sisa militan yang masih berusaha di Marawi sebenarnya sudah tidak memiliki kekuatan.

"Tak mungkin mereka bisa keluar lagi. Tak ada jalan juga bagi pihak lain untuk masuk," ujar Padilla.

Melanjutkan pernyataannya, Padilla berkata, "Jadi, membunuh mereka saat ini merupakan kunci bagi pasukan kami karena daerah ini sekarang sudah benar-benar kami kuasai."
Meski demikian, Padilla mengakui bahwa masih ada seorang petinggi ISIS asal Malaysia yang berkeliaran di Marawi, yaitu Mahmud Ahmad. Ia adalah orang yang disebut-sebut berpotensi menggantikan Hapilon.

Sejumlah ahli mengatakan, Mahmud adalah seorang pererut andal dan penggalang dana yang pernah dilatih di kamp Al Qaidah di Afghanistan.

Namun menurut Padilla, Mahmud hanyalah seorang akademisi yang tak dapat bertempur sehingga bukan ancaman bagi Filipina.

"Mahmud adalah seorang akademisi, bukan militan. Kami tidak merasa dia sebagai masalah," katanya.