Analisis

Pemimpin Tewas, ISIS Tetap Ancam Asia Tenggara

AFP , CNN Indonesia | Selasa, 17/10/2017 13:04 WIB
Pemimpin Tewas, ISIS Tetap Ancam Asia Tenggara Meski pemimpinnya telah tewas, kelompok teror ISIS dinilai masih menjadi ancaman bagi Asia Tenggara. (Reuters/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kematian pemimpin tertinggi ISIS di Asia Tenggara adalah pukulan telak bagi kelompok teror tersebut. Namun, ancaman yang mereka simpan masih belum berakhir.

Pemimpin regional ISIS, Isnilon Hapilon, dinyatakan tewas dalam serangan militer untuk mengakhiri pengepungan berbulan-bulan yang telah memakan ratusan jiwa di Marawi.

Pihak militer menyebut pentolan militan yang termasuk dalam daftar pencarian Amerika Serikat itu tewas dalam serangan dini hari bersama Omar Maute, sekutu Hapilon dalam menduduki kota di selatan Filipina itu.

Kelompok bersenjata berbaiat ISIS menguasai kota Muslim utama di negara berpenduduk dominan Katolik itu sejak Mei lalu, menyusul upaya gagal pemerintah menangkap Hapilon.

Hapilon yang juga tokoh kunci kelompok militan Abu Sayyaf muncul sebagai pemimpin ISIS Asia Tenggara saat sebuah video menyebar pada 2016 lalu, menunjukkan kelompok itu mendorong para ekstremis bersatu di bawah kepemimpinannya.

Sementara Omar Maute adalah salah satu pemimpin militan Maute, kelompok yang berakar dari pemberontakan Muslim di Mindanao. Kelompoknya juga telah berbaiat kepada ISIS dan bergabung dengan Hapilon untuk menduduki Marawi.
AFP melaporkan Hapilon dan Maute adalah dua ekstremis terakhir yang menjadi tokoh kunci dalam pertempuran di Marawi, setelah Abdullah Maute, saudara Omar, dilaporkan tewas bulan lalu. Namun, kabar itu tidak pernah terkonfirmasi.

Hapilon memegang peran kunci ISIS dalam mendirikan basis di Asia Tenggara sementara kelompok militan itu kehilangan wilayah di Timur Tengah. Kematiannya jelas menjadi pukulan telak bagi para teroris, kata sejumlah analis yang dikutip AFP.
Pertempuran berlangsung di Marawi sejak 23 Mei lalu.Pertempuran berlangsung di Marawi sejak 23 Mei lalu. (Reuters/Romeo Ranoco)
Kematiannya merupakan "pukulan operasional dan simbolis yang siginifikan bagi kelompok terkait ISIS dan Mindanao dan ISIS Pusat di Suriah," kata Kuma Ramakhrisna, pengamat terorisme dari Fakultas Studi Internasional Rajaratnam School Singapura.

Namun, dia memperingatkan bahwa hal tersebut bukan berarti ancaman ISIS di selatan Filipina dan Asia Tenggara bakal segera berakhir.
"Hanya karena pendudukan Marawi berakhir, tidak berarti ancaman selesai. Militan terkait ISIS di sana akan membangun kembali kekuatan dan tiarap sejenak, sembari memulihkan kekuatan," ujarnya.

Dia mengatakan seorang militan Malaysia yang terlibat dalam penyerangan Marawi, Mahmud Ahmad, mungkin bisa naik memimpin pasukan ISIS di FIlipina selatan dan berhubungan dengan para petinggi di Timur Tengah.

Mahmud Ahmad dilaporkan bekerja sebagai dosen di kampung halamannya dan ditugaskan mengumpulkan dana untuk merekrut jihadis.

Masih belum jelas ada berapa banyak militan pro-ISIS di Asia Tenggara yang dihuni lebih dari 600 juta orang. Namun, banyak kelompok militan setempat telah menyatakan berbaiat kepada kelompok tersebut.
Ratusan militan diyakini telah berbondong-bondong ke Timur Tengah untuk berperang bersama ISIS, terutama dari Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di kawasan, dan Filipina.

Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, memperingatkan otoritas kini dihadapkan pada ancaman dari militan berpengalaman perang yang pulang ke Asia Tenggara karena ISIS mulai tumbang di Timur Tengah.

Otoritas Asia Tenggara belakangan ini khawatir akan keberadaan unit militan ISIS di kawasan, Khatibah Nusantara.

"Saya rasa perhatian akan kembali dialihkan pada kepulangan pasukan dari Suriah dan Irak," kata Sidney.