Upacara pemakaman yang akan berlangsung selama lima hari mulai Kamis (26/10) itu membutuhkan persiapan selama setahun dan memakan biaya sebesar US$90 juta.
Thailand juga menetapkan 26 Oktober sebagai hari libur nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari 1.000 orang dilaporkan telah membangun tenda di sepanjang jalan yang akan menjadi rute arak-arakan jenazah Bhumibol nanti demi menyaksikan upacara dari garis terdepan, meski hujan beberapa kali mengguyur ibu kota Thailand itu.
Hotel-hotel dan tempat penginapan lain di sekitar lokasi upacara kremasi bahkan dilaporkan telah penuh sejak sepekan terakhir.
"Saya sudah tiba di Bangkok dari dua hari lalu agar bisa mendapat tempat pertama dan terdepan," kata Chalermporn kepada Reuters.
Foto: REUTERS/Kerek WongsaRibuan warga rela menggelar tenda demi mendapatkan posisi terdepan saat upacara kremasi Raja Bhumibol digelar. |
"Kami harus rela hujan-hujan untuk beberapa hari demi mendapatkan momen berharga untuk berada di dekatnya [Bhumibol] untuk terakhir kali,"
Sementara itu, otoritas Thailand menargetkan proses pemakaman itu mampu menampung sekitar 250 ribu warga yang ingin menyaksikan langsung upacara langka tersebut.
Raja yang meninggal di usia 88 tahun itu pun dianggap sebagai simbol kebangkitan monarki di Thailand. Negara di Asia Tenggara itu memiliki hukum ketat yang dikenal sebagai Les Majeste bagi setiap orang yang dianggap menghina keluarga kerajaan.
Kini, tahta Bhumibol diturunkan kepada sang anak bungsu yakni Maha Vajiralongkorn yang juga akan memimpin upacara kremasi tersebut.
Foto: REUTERS/Kerek Wongsa