Dalam wawancara khusus dengan CNN di Pyongyang, Ri Yong-pil mengatakan ancaman yang disampaikan Menteri Luar Negeri Korea Utara bulan lalu tidak boleh sampai ditepikan. Korut "selalu melakukan apa yang sudah dikatakan," kata Ri yang tampak marah.
Berbicara di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu, Menlu Ri Yong-ho mengatakan Korea Utara mempertimbangkan menguji coba bom hidrogen di Samudera Pasifik. Ancaman itu diutarakan selang beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bakal "benar-benar menghancurkan" Korut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korea Utara melaksanakan uji coba nuklir terkuatnya pada awal Semptember, mengklaimnya sebagai bom hidrogen yang bisa dipasangkan pada peluru kendali balistik. Tes itu merupakan yang keenam kalinya sejauh ini.
PBB merespons dengan menjatuhkan sanksi pada pemerintahan Kim Jong-un.
Selain itu, dalam silih ancamnya dengan Washington, Pyongyang pada satu titik menyatakan bakal menembakkan rudal ke perairan lepas Guam, wilayah AS di Pasifik.
[Gambas:Video CNN]
Ri juga mengimplikasikan bahwa kanal diplomatik antara AS dan Korea Utara sesungguhnya tidak ada, meski Menlu AS Rex Tillerson menegaskan bisa menghubungi Pyongyang lewat jalur tersebut.
"AS berbicara soal opsi militer dan bahkan melakukan langkah militer. Mereka menekan kami semua dengan sanksi. Jika Anda berpikir semua ini bakal berujung pada diplomasi, Anda salah besar," kata Ri.
"Kita lihat apa yang akan terjadi. ... Kami sangat siap, Anda tidak akan percaya," ujarnya dalam wawancara dengan Fox Business Network yang dikutip CNN.
"Anda akan terkejut melihat seberapa siap kami," kata Trump.
"Apakah itu hal yang baik? Jawabannya adalah ya. Apakah itu akan terjadi? Siapa yang tahu, siapa yang tahu."