Melalui telepon, Tillerson turut menyatakan keprihatinan AS atas kekejaman yang dilaporkan terjadi di wilayah itu sejak akhir Agustus lalu sehingga memicu eksodus ratusan ribu Muslim Rohingya ke Bangladesh.
Dia juga meminta Hlaing untuk menjamin perlindungan bagi para pengungsi Rohingya yang ingin kembali ke kampung halamannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Militer Myanmar melakukan operasi pembersihan yang dilaporkan tak hanya menyasar kelompok bersenjata, tapi juga sipil Rohingya hingga menewaskan sekitar 1.000 orang dan menyebabkan lebih dari 500 ribu lainnya kabur ke Bangladesh.
Dalam percakapannya, Tillerson pun mendesak Hlaing untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan bagi para warga di Rakhine yang terkena dampak konflik.
Dia juga mendorong militer Myanmar untuk bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelidiki dugaan pelanggaran HAM dan meminta pemerintah setempat membuka akses media ke pusat konflik.
Diberitakan Reuters, Kemlu AS bahkan tengah mempertimbangkan untuk secara resmi menganggap konflik kemanusiaan tersebut sebagai upaya pemusnahan etnis, yang selama ini telah digaungkan PBB.
Gedung Putih juga sedang mempertimbangkan rencana penjatuhan sanksi terhadap oknum di Myanmar yang diduga terlibat dalam kekerasan di Rakhine, berdasarkan Undang-Undang Global Magnitsky.
Sikap tegas ini muncul seiring dengan rencana kunjungan Presiden Donald Trump ke Asia awal November mendatang.
Meski Myanmar tak masuk dalam daftar 12 hari lawatannya ke Asia itu, Trump dijadwalkan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Manila, Filipina, yang diperkirakan akan menyorot konflik kemanusiaan di Rakhine.