Polisi Israel Kembali Periksa PM Netanyahu Terkait Korupsi

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 20/11/2017 12:58 WIB
Polisi Israel Kembali Periksa PM Netanyahu Terkait Korupsi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (REUTERS/Amir Cohen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali harus berurusan dengan polisi. Untuk keenam kalinya sejak 2 Januari lalu, polisi kembali memeriksa PM Netanyahu dengan dugaan korupsi, Sabtu (18/11).

“Kami memastikan perdana menteri diperiksa hari ini (Sabtu) selama beberapa jam di rumahnya di Yerusalem sebagai bagian dari penyelidikan Lahav 433 (Unit Kejahatan Nasional),” kata polisi seperti diilansir situs Israel, Ynetnews.com, Senin (20/11).

Netanyahu diduga telah menerima gratifikasi dari para pendukungnya, termasuk miliader Australia James Packer dan dan produser Hollywood Arnon Milchan.
Televisi Channel Two  melaporkan detektif tiba dikediaman resmi Netanyahu di Yerusalem sekitar Minggu sore pukul 16.00 waktu setempat.


Menurut kabar yang dilansir AFP, pemeriksaan tersebut merupakan yang kedua kalinya dalam 10 hari terakhir ke rumah orang nomor satu di Israel itu. Pada 9 November lalu, Netanyahu juga diinterogasi sekitar empat jam. 

Ada dua kejahatan yang dituduhkan kepada Netanyahu. Pertama, dia dituding menerima hadiah bernilai ribuan poundsterling, sampanye serta cerutu mahal dari miliarder sekaligus produser Hollywood Arnon Milchan.
Sebagai imbalannya, Netanyahu melobi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry agar mau memberikan visa jangka panjang bagi Milchan, warga Israel yang tinggal di AS. Netanyahu telah mengaku bahwa dia memang mengajukan permintaan itu, tapi membantah hal itu terkait dengan beragam hadiah yang dia terima dari Milchan.

Kasus kedua, Netanyahu diduga menyuap Arnon Mozes, pemilik surat kabar terbesar di Israel, Yedioth Ahronoth. PM Israel itu diduga menyuap Mozes demi mendapatkan pemberitaan positif. Kasus ini dikenal dengan Case 2000.

Netanyahu juga diduga berjanji bakal menutup media pesaing Yedioth Ahronoth, yakni Israel Hayom--surat kabar pro-Netanyahu milik konglomerat AS Sheldon Adelson--jika Mozes bisa membawa medianya memberitakan hal-hal yang menguntungkan pemerintah.
Selama ini, Netanyahu berkeras membantah segala tudingan tersebut dengan mengatakan bahwa dia telah menjadi target pembunuhan karakter oleh lawan-lawan politiknya.

Jika kedapatan bersalah, perdana menteri yang berkuasa sejak 2009 lalu itu terancam hukuman 10 tahun penjara.

Selain Netanyahu, sejumlah orang kepercayaannya seperti Yitzhak Molcho dan David Shimron, yang bekerja pada suatu firma hukum di Israel, juga telah diinterogasi polisi sebagai bagian dari penyelidikan.

Polisi resmi menetapkan Netanyahu tersangka sejak Agustus lalu dalam kasus ini. Pihak berwenang memerintahkan agar kasus ini tidak lagi dibicarakan di ruang publik, dalam rangka upaya mencari saksi dari sisi pemerintah. (nat)