AS: Kejatuhan Mugabe Simbol Kesempatan Bersejarah Zimbabwe

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 11:37 WIB
AS: Kejatuhan Mugabe Simbol Kesempatan Bersejarah Zimbabwe Menlu AS, Rex Tillerson, menyatakan bahwa pengunduran diri Presiden Robert Mugabe pada Selasa (22/11) dapat menjadi simbol kesempatan bersejarah bagi Zimbabwe. (Reuters/Yuri Gripas/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat menyatakan bahwa pengunduran diri Presiden Robert Mugabe pada Selasa (22/11) dapat menjadi simbol kesempatan bersejarah bagi Zimbabwe.

"Pengunduran diri Robert Mugabe adalah momen bersejarah bagi Zimbabwe. Zimbabwe memiliki kesempatan luar biasa untuk menentukan jalur baru," ujar Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, sebagaimana dikutip AFP.

Pernyataan ini disampaikan setelah Ketua Parlemen Zimbabwe, Jacob Mudenda, membacakan surat pengunduran diri Mugabe tak lama usai partai berkuasa, ZANU-PF, memulai proses pemakzulan sang presiden.
Upaya pemakzulan itu dilakukan karena Mugabe terus mempertahankan jabatannya selama sepekan setelah militer mengambil alih pemerintahan, sementara ZANU-PF mendorongnya untuk mengundurkan diri.


Hubungan AS dan Zimbabwe di bawah pemerintahan Mugabe sendiri sempat mengalami pasang surut. Zimbabwe masih terjerat sanksi AS, tapi Washington juga tak menyatakan dukungan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer.

Namun, Tillerson berharap pengambilalihan militer dan sikap partai berkuasa yang sempat berwacana memakzulkan Mugabe tidak menutup pintu demokrasi, justru membuka ruang untuk reformasi.
"AS mendukung penuh upaya mencapai Zimbabwe yang damai, demokratis, dan sejahtera. Setelah ini, kami terus meminta semua pihak untuk menahan diri dan menghormati konstitusi dan amanat rakyat," katanya.

Tillerson juga berharap para pemimpin Zimbabwe dapat mulai memikirkan reformasi politik dan ekonomi agar masa depan masyarakat nantinya lebih stabil.

Menurut Tillerson, salah satu cara mencapai kestabilan politik adalah dengan menggelar pemilihan umum yang adil dan terbuka.

"Bagaimana pun rancangan pemerintahan sementara mereka, harus mengarah pada pemilihan umum yang bebas dan adil. Rakyat Zimbabwe harus memilih pemimpin mereka sendiri," ucap Tillerson.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya, partai berkuasa, ZANU-PF, menyebut bahwa jabatan presiden Zimbabwe akan diisi oleh eks Wakil Presiden, Emmerson Mnangagwa, yang sempat dipecat oleh Mugabe.

Patrick Chinamasa, sekretaris hukum partai, mengatakan kepada Reuters bahwa Mnangagwa akan dilantik sebagai presiden para Rabu hari ini (22/11) atau Kamis esok.

Secara terpisah, Kepala Disiplin ZANU-PF, Lovemore Matuke, mengatakan kepada Reuters bahwa Mnangagwa menjalani sisa masa jabatan Mugabe hingga pemilu yang akan datang, dijadwalkan pada September 2018. (has/has)