Intel Israel Harapkan Pangeran Saudi Berkunjung ke Tel Aviv

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 14/12/2017 13:46 WIB
Intel Israel Harapkan Pangeran Saudi Berkunjung ke Tel Aviv Menteri Intelijen Israel mengharapkan kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman ke Tel Aviv. (AFP PHOTO / Fayez Nureldine)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz menginginkan Putra Mahkota Arab Saudi  Pangeran Mohammed bin Salman berkunjung ke Tel Aviv.

Tak hanya itu, juru bicara Katz, Arye Shalicar, mengatakan bosnya yang merangkap sebagai menteri transportasi juga meminta Raja Salman mengundang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Saudi.

"Dia [Katz] meminta Raja Salman untuk mengundang Netanyahu secara resmi ke Riyadh. Dia juga mengundang Mohammed bin Salman, anaknya [Raja Salman], untuk datang berkunjung ke Israel," kata Shalicar mengutip Katz, Kamis (14/12).


Shalicar mengatakan permintaan itu diungkapkan Katz dalam wawancaranya bersama Elaph, media online milik salah satu pengusaha asal Saudi.

Seperti dilanisr AFP, Shalicar mengatakan Katz mengungkapkan permintaannya itu karena "dirinya menginginkan perdamaian di kawasan".

Dia juga mengatakan bahwa Katz juga menganggap Saudi sebagai pemimpin di negara Arab.



Karena itu, menurutnya, perdamaian di Timur Tengah bisa terjalin melalui kerja sama keamanan dan ekonomi antara kedua belah pihak.

Pernyataan Katz muncul seiring dengan klaim PM Netanyahu baru-baru ini yang berulang kali mengatakan bahwa Israel tengah mempererat hubungan dengan Arab Saudi dan sejumlah negara di Timur Tengah lainnya kecuali Iran.

Padahal, selama ini Saudi dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik karena konflik di Timur Tengah khususnya sengketa antara Israel dan Palestina.

[Gambas:Video CNN]

Isu kedekatan Isarel dan Saudi ini juga muncul di tengah polemik langkah Amerika Serikat yang belakangan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Keputusan AS itu memicu kecaman hingga amarah tak hanya dari dunia Arab, tapi juga sejumlah negara Barat yang merupakan sekutu utama Washington seperti Jerman, Inggris, Perancis, dan Uni Eropa.

Saudi, yang dianggap sebagai pemimpin di kawasan, sejauh ini juga dianggap tidak cukup vokal menentang langkah AS yang dinilai dapat merusak perdamaian di Timur Tengah itu. (nat)