"Yerusalem adalah dan akan selamanya menjadi ibu kota Palestina. Tidak akan perdamaian dan stabilitas tanpa itu," kata Abbas seperti dikutip AFP.
Hal itu dinyatakan Abbas di sela pertemuan luar biasa negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki, Rabu (13/12), yang membahas keputusan kontroversial Amerika Serikat untuk memindahkan kedutaan besar dari Tel Aviv ke Yerusalem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Draf resolusi itu kemungkinan akan mulai disebarkan ke seluruh anggota DK PBB minggu ini.
Pada pertemuan puncak OKI, para pemimpin negara OKI mengeluarkan Deklarasi Istanbul yang mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan AS.
[Gambas:Video CNN]
Adapun Abbas memperingatkan bahwa tidak akan ada perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah sampai Yerusalem diakui secara resmi sebagai Ibu Kota Palestina.
Selain mengecam keras keputusan Trump, Abbas menyatakan bahwa AS sudah tidak memiliki hak dan peran sebagai salah satu penengah dalam proses perdamaian di Timur Tengah.
Dia menganggap sikap Trump soal Yerusalem itu seperti AS memberikan sebuah kota di negaranya sebagai hadiah bagi Zionis.
(nat)