Arab Galang Dukungan Yerusalem Timur Jadi Ibu Kota Palestina

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 07/01/2018 14:58 WIB
Arab Galang Dukungan Yerusalem Timur Jadi Ibu Kota Palestina Liga Arab menggalang dukungan internasional untuk mengakui Palestina sebagai negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. (AFP PHOTO/MOHAMED EL-SHAHED)
Jakarta, CNN Indonesia -- Liga Arab menggalang dukungan internasional untuk mengakui negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota, setelah Washington mengakui kota suci tiga agama itu sebagai Ibu Kota Israel.

Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi mengumumkan hal tersebut dalam konferensi pers bersama Ketua Liga Arab Abul Gheit setelah pertemuan soal status Yerusalem di Ibu Kota Yordania, Amman, Sabtu (6/1).

"Ada keputusan politik untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan kami akan berjuang mencapai keputusan politik internasional untuk mengakui negara Palestina dengan Yerusalem (Timur) sebagai ibu kotanya," kata Safadi dalam pertemuan yang dihadiri Menteri Luar Negeri Mesir, Arab Saudi, Maroko dan Otoritas Palestina, juga para menteri Uni Emirat Arab.


Ketua Liga Arab, Abu Gheit mengatakan pertemuan para menteri luar negeri Arab yang lebih luas akan digelar akhir bulan ini.



Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kontroversial pada 6 Desember lalu untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel menuai protes dari Arab dan dunia muslim. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) juga menolak keputusan yang tidak mengikat itu dalam sebuah resolusi yang didukung 128 negara.

Status Yerusalem merupakan salah satu isu yang paling diperdebatkan dalam konflik Israel-Palestina.

Israel menduduki Yerusalem Timur dan Tepi Barat pada 1967, lalu menganeksasi Yerusalem Timur. Langkah itu tidak pernah diakui dunia internasional.

Israel secara sepihak mengklaim seluruh Yerusalem sebagai ibu kota. Sedangkan Palestina mendambakan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya saat merdeka.

Safadi menyatakan negara-negara Arab memiliki tujuan, termasuk membatalkan keputusan Trump.

Mesjid Kubah Batu, YerusalemFoto: REUTERS/Ammar Awad
Mesjid Kubah Batu, Yerusalem


"Menurut hukum internasional, Yerusalem adalah tanah jajahan," kata dia.

Sebelumnya, Raja Yordania, Raja Abdullah II bertemu dengan para diplomat Arab. Raja Abdullah II menyatakan bahwa status Yerusalem harus diselesaikan sesuai kerangka kesepakatan perdamaian yang adil dan abadi antara Israel dan Palestina.

Yordania menandatangani kesepakatan perdamaian dengan Israel pada 1994, dan menjadi penjaga tempat suci muslim di Yerusalem.

Aksi protes anti-Israel dan anti-Amerika Serikat gencar digelar di Yordania pasca keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Yordania menyatakan Presiden AS itu telah melanggar hukum internasional.

(nat)