Menlu RI Upayakan Pemulangan 2 WNI Sandera Abu Sayyaf

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Senin, 22/01/2018 15:57 WIB
Menlu RI Upayakan Pemulangan 2 WNI Sandera Abu Sayyaf Menlu RI, Retno Marsudi, mengatakan bahwa pihaknya tengah mengupayakan pemulangan dua warga negara Indonesia yang telah dibebaskan dari kelompok bersenjata Abu Sayyaf pekan lalu. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, mengatakan bahwa pihaknya tengah mengupayakan pemulangan dua warga negara Indonesia yang telah dibebaskan dari penyanderaan Abu Sayyaf pekan lalu.

"Sekarang, yang kita perlukan adalah untuk memperoleh exit clearance dari otoritas Filipina sehingga kedua warga negara kita dapat segara pulang ke Indonesia," kata Retno di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (22/1).

Retno mengatakan, pagi tadi dia juga telah berkomunikasi dengan otoritas Filipina untuk bisa segera memberikan izin keluar bagi dua WNI tersebut.
Saat ini, kata Retno, dua WNI yang bernama La Utu bin Raali dan La Hadi bin La Adi tersebut telah berada di Konsulat Jenderal RI di Davao.


"Kedua WNI tersebut sudah berada di tangan kita dalam kondisi sehat. Saya sudah sempat berkomunikasi melalui Pak Konjen kita untuk mengecek kesehatan dan sebagainya," tutur Retno.

Sementara itu, Retno juga masih terus mengupayakan pembebasan tiga WNI yang sampai saat ini masih menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf.
Menurut Retno, dalam pertemuan terkahir dengan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, pada 4 Januari lalu, dia juga membahas tentang pembebasan WNI tersebut.

"Itu juga merupakan pokok bahasan utama yang saya sampaikan dengan presiden Duterte. Jadi semua yang dapat kita upayakan, kita upayakan untuk dapat segera membebaskan yang 3, Mohon doanya aja," ujar Retno.

Ketiga WNI itu adalah bagian dari tujuh anak buah kapal ikan yang diculik Abu Sayyaf dalam rentang waktu berdekatan pada 2016 lalu. Dua di antara tujuh ABK tersebut berhasil kabur dan diselamatkan militer Filipina pada September 2017.
Abu Sayyaf telah lama menjadi ancaman keamanan bagi Filipina. Kelompok yang berbaiat kepada ISIS itu terbentuk pada 90-an dengan sokongan dana dari jaringan Al Qaidah. 

Kelompok ini dikenal kerap melakukan membajak kapal asing dan menyandera awaknya dengan tuntutan tebusan. Abu Sayyaf tak segan membunuh para sanderanya jika tebusan yang mereka minta tak dibayarkan.

Karena meningkatnya ancaman penyanderaan Abu Sayyaf dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia bersama Filipina dan Malaysia sepakat menggelar patroli laut terkoordinasi di sekitar perairan Sabah, Sulu, dan Sulawesi. (has)