"Ini bukan berarti hubungan diplomatik antara Turki dan Belanda terputus. Ada kuasa usaha yang melanjutkan hubungan antara kedua negara," kata juru bicara pemerintah sekaligus Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag, seperti dilansir Reuters, Selasa (6/2).
Cekcok keduanya bermula saat Belanda melarang masuk menteri Turki yang hendak berkampanye untuk menggalang suara dukungan terhadap referendum konstitusi dari diaspora mereka di Rotterdam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat yang sama, Belanda menggelar pemilihan umum. Sejak itu, hubungan kedua negara merenggang.
Kementerian Luar Negeri Belanda secara resmi menarik duta besarnya dari Turki pada awal pekan ini yang telah diusir dari Ankara sejak hampir setahun lalu.
Tak hanya menarik dubesnya, Belanda juga mengatakan tidak akan menerima penunjukkan duta besar baru Turki di negaranya.
"Kami telah menghentikan pembicaraan dengan Turki untuk menyelesaikan masalah tersebut," bunyi pernyataan Kemlu Belanda, Selasa (6/2).
Wakil PM Turki, Bozdag berharap perselisihan kedua negara bisa segera diatasi.
"Hal ini bukan lah peristiwa baru. Bagaimana pun hubungan Belanda dan Turki tidak ditangguhkan karena ini," lanjutnya seperti dikutip kantor berita Anadolu. (nat)