Mengungkap Aliran Dana Bantuan ke Kelompok Teror al-Shabaab

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 21/02/2018 20:20 WIB
Ilustrasi terorisme di Somalia. (Reuters/Feisal Omar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Afiliasi kelompok teror al-Qaidah, al-Shabaab, meraup miliaran dolar per tahunnya lewat eksploitasi dana bantuan dari negara-negara Barat dalam misi menghapuskan grup teror tersebut.

Investigasi CNN membongkar bagaimana uang yang harusnya PBB berikan langsung ke negara terlantar konflik dan kelaparan itu dapat berakhir di tangan organisasi teroris tertua di Afrika.

Beberapa orang bekas anggota al-Shabaab dan agen intelijen Somalia mengatakan kelompok teror ini berhasil memeras ribuan dolar per hari dengan cara menutup jalan dan menarik paksa pajak dari pedagang makanan dan bahan pokok yang hendak dijual secara lokal ke pengungsi.


Penduduk yang mengungsi dan hidup di lokasi kamp pusat kota Somalia, Baidoa, didata oleh PBB dan diberikan kartu berisi uang tunai sekitar US$80 sampai US$90 per bulan untuk membeli keperluan sehari-hari dari pedagang lokal.

Para pengusaha kini menyalurkan barang jualan mereka dari pasar terbuka ke tempat-tempat seperti Baidoa, di mana pengungsi tiba dan menetap setiap hari. Untuk memindahkan barang bawaan, mereka harus membayar al-Shabaab sebagai kelompok yang menguasai jalan utama menuju kota-kota.
Eks anggota kelompok teror dan agen intelijen Somalia mengungkap dua titik penutupan jalan al-Shabaab yang dapat menghasilkan ribuan dolar dalam sehari dari berbagai kendaraan yang lewat. PBB memperkirakan sekitar US$5,000 dapat diperoleh per hari dari satu barikade di jalan menuju Baidoa.

Para pengumpul 'pajak'

Ditemui di sebuah lokasi rahasia di pinggiran Baidoa, seorang eks anggota al-Shabaab membenarkan bahwa pemerasan uang di titik-titik penutupan jalan tersebut adalah salah satu sumber pemasukan terbesar untuk al-Shabaab.

Dia sempat menjadi pengumpul pajak untuk al-Shabaab dan tertangkap dalam penggerebekan Badan Intelejen dan Keamanan Nasional Somalia.

Menurutnya, dua sumber pemasukan terbesar mereka adalah jalan menuju Baidoa dan jalur utama penyambung ibu kota Magadishu dan daerah kaya pertanian wilayah Lower Shabelle.
Keadaan sebenarnya sudah membaik jika dibandingkan situasi 1990-an, saat oknum-oknum lokal mengambil keuntungan dari uang bantuan hingga menyebabkan ratusan ribu penduduk Somalia kelaparan.

Kematian massal di jalanan Baidoa pada 1992 silam memprovokasi Amerika Serikat hingga memimpin intervensi militer multinasional yang didukung oleh PBB di.

Di Baidoa, saat itu, sebuah truk yang disebut Bus Maut mengumpulkan sekitar 100 jasad per hari. Situasi serius ini membuat banyak lembaga bantuan kemanusiaan terpaksa membayar oknum-oknum tersebut demi mendapatkan akses menuju penduduk yang kelaparan.

Diciptakanlah situasi di mana kelaparan terus menerus terjadi, membuat mereka tetap mendapatkan keuntungan hingga negara-negara Barat melakukan intervensi.
Saat itu, organisasi seperti Komite Internasional untuk Palang Merah membutuhkan penjaga bersenjata-mereka menghabiskan US$100,00 per minggu hanya untuk mendapatkan perlindungan di Mogadishu.

Uang tersebut jatuh ke tangan para preman--bukan kepada organisasi teroris internasional, yang lebih tegas jika utang mereka tidak dibayar.
Suasana pascateror di Mogadishu.Suasana pascateror di Mogadishu. (Reuters/Feisal Omar)
Tahun ini, jika pedagang lokal tidak membayar, "mereka akan ditangkap dan dibunuh," ujar seorang mantan pejuang al-Shabaab yang sempat jadi pengumpul pajak selama delapan tahun sebelum bekerja untuk Badan Intelejen dan Keamanan Nasional Somalia.

Dia menjelaskan bagaimana al-Shabaab bisa mendapatkan US$3 dari setiap karung beras yang diantar ke kota oleh pedagang swasta, mengambil hampir separuh dari sekarung beras yang bisa dijual seharga US$18 di Mogadishu dan US$26 di Baidoa.
Para pedagang juga dipaksa membayar pajak per tahun ke al-Shabaab--bahkan di kota-kota yang tidak sedang dikuasai oleh kelompok itu, seperti Baidoa dan Mogadishu.

Dugaan ini dikonfirmasi oleh pemerintah daerah dan presiden South West State of Somalia, Hassan Sheikh Ada.

Walau mengakui adanya kejahatan tersebut, Michael Keating, ketua perwakilan PBB di Somalia, tetap menyatakan bahwa sebagian besar bantuan luar negeri tetap sampai di tujuan yang diinginkan.

"Sayangnya mereka yang membutuhkan, dan mereka yang jadi sasaran bantuan kemanusiaan, memang menarik bagi orang-orang yang berusaha mendapatkan uang, dan akan muncul berbagai macam bentuk kejahatan," kata pejabat senior PBB yang lama bertugas di Afghanistan dan Timur Tengah itu.

"Hal itu tidak bisa disangkal, tetapi mengambilnya sebagai contoh, dan menyebut responsnya utuhnya seperti ini, akan menyebabkan kesalahpahaman menjijikkan dari apa yang sebenarnya terjadi."


(lit/aal)

1 dari 2