Kronologi Serangan Bertubi-tubi Suriah ke Ghouta Timur

Eka Santhika, CNN Indonesia | Kamis, 22/02/2018 02:49 WIB
Kronologi Serangan Bertubi-tubi Suriah ke Ghouta Timur Ratusan orang tewas dan terluka dalam serangan ganas yang dilancarkan pemerintah Suriah di kantong pemberontak Ghouta Timur (AFP/ ABDULMONAM EASSA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tentara Suriah telah melakukan penyerangan udara bertubi-tubi selama empat hari di wilayah pemberontak Ghouta Timur. Ini adalah kantong pemberontak dekat Damaskus yang dikendalikan oleh kelompok Islam dan telah dikepung pemerintah selama lima tahun.

Serangan udara yang ganas itu telah menyebabkan 250 warga sipil tewas dan ratusan lainnya terluka. Pemerintah Suriah telah meningkatkan intensitas serangan sejak Minggu (18/2). Saat itu 300 warga sipil tewas dan 1.400 lainnya terluka.

Rezim Presiden Bashar al-Assad saat itu menembakkan 260 roket.Selain itu didarat, tentara disekitar Ghouta Timur juga bersiap untuk serangan darat.


"Seranganya tingga menunggu lampu hijau," terang Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia Suriah, seperti dikutip AFP.

Pada Senin (19/2), pasukan rezim Suriah melakukan serangan darat di Ghouta Timur. Serangan ini menewaskan 127 warga sipil, kematian tertinggi dalam satu hari di daerah pemberontak sejak 2013.

Koordinator kemanusiaan regional PBB untuk Suriah, Panos Moumtzis,mengimbau agar pemerintah tidak menargetkan warga sipil dalam serangan mereka.

Selasa (20/2), Serangan udara Rusia menghantam Ghouta Timur untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Serangan ini dilaporkan menghancurkan area penting di rumah sakit Arbin dan melumpuhkannya.

Enam rumah sakut lainnya juga diserang setelah membombardir kota selama 48 jam dan melumpuhkan tiga rumah sakit, seperti dilaporkan PBB.

Makin banyaknnya korban luka membuat rumah sakit kekurangan tempat tidur dan korban mesti berbaring di lantai rumah sakit.

Pada Rabu (21/2), razia tentara menargetkan sejumlah daerah, yaitu Hammuriyeh dan Kafr Batna. Selain bom, pesawat juga menjatuhkan bom laras berisi minyak mentah. Ini adalah jenis amunisi improvisasi yang seringkali menyebabkan kerusakan tanpa pandang bulu dan dikutuk oleh PBB.

Serangan ini membuat sejumlah rumah hancur. Menurut seorang koresponden AFP di Hammuriyeh, warga sipil menggali parit di bawah rumah mereka untuk melindungi diri dari serangan tersebut. Komite Internasional Palang Merah meminta akses ke daerah kantong untuk membantu yang terluka. (eks/eks)