SURAT DARI RANTAU

Tercabiknya Iklan LGBT di Halte Bus Negeri Kincir Angin

Mohammad Bakhriansyah, CNN Indonesia | Rabu, 28/03/2018 14:17 WIB
Tercabiknya Iklan LGBT di Halte Bus Negeri Kincir Angin Foto: AFP PHOTO / ANP / Piroschka van de Wouw / Netherlands OUT
Jakarta, CNN Indonesia -- Saat ini Belanda sedang di masa peralihan musim dingin ke musim semi. Pergantian musim membuat perusahan-perusahan pakaian mulai mengiklankan produk mereka yang sesuai musim.

Jadi, hal wajar kalau sekitar satu minggu terakhir, halte bis di kota-kota di Belanda dipenuhi poster iklan baru, termasuk dari sebuah perusahaan pakaian.

Ternyata, poster iklan pakaian ini menuai kontroversi.


Apa yang membuat kontroversi? Ada dua poster baru dari perusahaan tersebut. Di iklan yang pertama, seorang laki-laki berbadan atletis yang menggunakan pakaian renang mini berdiri di samping sebuah kolam renang. Kelihatannya tidak ada yang aneh.

Tetapi, di samping laki-laki ini berdiri seorang laki-laki lain dengan pakaian formal dengan salah satu tangan ditempelkan pada badan laki-laki berpakaian renang tersebut.

Buat beberapa orang, iklan ini terlihat masih tampak biasa saja dan bisa diterima. Bagaimana dengan poster yang kedua yang menunjukkan seorang laki-laki yang sedang dipangku oleh laki-laki lain. Keduanya menggunakan pakaian lengkap dan terlihat sedang berciuman mesra.

Beberapa hari setelah kemunculan iklan ini, di beberapa halte bis di negara berpenduduk lebih dari 17 juta jiwa dengan 2,13% dari etnis Indo, terjadi aksi vandalisme terhadap iklan ini. Beberapa poster iklan dan kaca pelindungnya dihancurkan, atau disemprot dengan cat.

Mengapa masyarakat Belanda menolak iklan ini? Salah satu media elektronik lokal menyebutkan bahwa masyarakat mempertanyakan mengapa poster ini begitu mudah dilihat oleh publik? Mereka khawatir bagaimana menjelaskan iklan tersebut kepada anak-anak di bawah umur.

Masyarakat juga masih beranggapan bahwa ciuman antara dua orang laki-laki adalah tidak pantas.

Pendapat lain kemudian mencoba mengaitkan isu ini dengan agama, meskipun pada kenyataannya data tahun 2017 menunjukkan bahwa setengah dari penduduk Belanda tidak mengakui adanya agama atau tidak memeluk suatu agama.

Sebagai pembanding, sebelumnya ada juga iklan-iklan yang juga sebenarnya tidak kalah provokatif. Sebagai contoh, perusahaan yang sama pernah mengiklankan produk mereka di mana seorang laki-laki berpakaian formal tengah meluncur dari payudara seorang wanita yang nyaris telanjang.

Contoh lainnya adalah iklan yang memperlihatkan seorang laki-laki yang sedang mengintip ke dalam rok seorang wanita, dan juga iklan yang memperlihatkan seekor anak kucing (a pussy cat) yang ada di depan daerah paling pribadi dari seorang wanita dengan pose telanjang.

Juga, ada iklan keju dengan menggunakan model-model telanjang (Ya, iklan keju. Anda tidak salah baca..... ). Iklan-iklan ini memang menjadi pembicaraan yang hangat, tetapi tidak terjadi tindakan vandalisme.

Beragam komentar terhadap iklan dan aksi vandalisme ini. Mereka tidak menentang homoseksual, tetapi yang menganggu mereka adalah poster iklan ini ditemukan di setiap halte bis yang berjarak hanya sekitar 100 meter.

Salah seorang berkomentar "saya merasa tidak perlu melihat 2 orang homoseksual berciuman di setiap 100 meter, seperti saya juga tidak perlu melihat sepasang heteroseksual yang berciuman di setiap 100 meter".

Beberapa menyebutkan bahwa tidak masalah untuk tidak setuju dengan pilihan hidup orang lain, tetapi melakukan tindakan vandalisme adalah sebuah kesalahan.

Perusahaan pakaian tersebut tidak menyangka akan reaksi yang muncul di masyarakat. Mereka bahkan kehilangan ribuan pengikut di sosial media.

Disebutkan bahwa perusahaan tersebut tidak memprediksi bahwa isu homofobia di kalangan masyarakat Belanda masih terjadi. Perlu kita ketahui, Belanda adalah negara pertama di dunia yang mengakui pernikahan sesama jenis.

Saat ini, sudah tidak ditemukan lagi iklan tersebut di halte-halte bis. Apakah insiden ini yang menyebabkan perusahan tersebut menurunkan iklan tersebut? Atau kontrak tayang iklan di halte bis sudah berakhir?

Beberapa pertanyaan muncul di benak saya. Apakah penduduk Belanda lebih toleran terhadap isu nudity dibandingkan dengan terhadap isu homoseksualitas? Apakah ini fenomena yang muncul di sebagian kecil masyarakat tetapi menjadi besar karena liputan media? Ataukah ini hanya salah satu strategi pemasaran?

***

Mohammad Bakhriansyah adalah mahasiswa program doktoral di Utrecht Institute for Pharmaceutical Sciences (UIPS), Utrecth University, Utrecht, Belanda (nat)