Polisi Inggris Sebut Agen Rusia Terpapar Racun di Depan Rumah

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 29/03/2018 18:19 WIB
Polisi Inggris Sebut Agen Rusia Terpapar Racun di Depan Rumah Kepolisian London meyakini mantan agen Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, Yulia, pertama kali terpapar racun saraf di depan rumahnya di Salisbury. (Reuters/Toby Melville)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Metropolitan London meyakini mantan agen Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, Yulia, pertama kali terpapar racun saraf di rumahnya di Salisbury, barat daya London, Inggris.

Keyakinan ini muncul setelah tim penyelidik menemukan konsentrasi racun dalam jumlah tinggi di rumah Skripal, terutama di pintu depan. Kepolisian Inggris pun memfokuskan penyelidikan di sekitar rumah Skripal.

"Warga yang tinggal di sekitar rumah Skripal akan melihat sejumlah petugas kepolisian melakukan serangkaian penyelidikan. Namun, kami ingin memastikan bahwa risiko terpapar racun tetap rendah dan penyelidikan ini bersifat pencegahan," kata Wakil Asisten Komisioner Kepolisian Metropolitan London, Dean Haydon, Kamis (29/3).
Haydon mengatakan sebelumnya jejak racun juga ditemukan di beberapa lokasi lain, termasuk restoran di dekat pusat perbelanjaan Salisbury, di mana Skripal dan putrinya ditemukan tak sadarkan diri pada 4 Maret lalu.


Namun, jejak racun di beberapa tempat itu tidak sebanyak yang ditemukan di rumah Skripal.

Penyelidikan kasus dugaan peracunan Skripal ini berbuntut panjang dan diangap sebagai yang paling kompleks dilakukan divisi kontraterorisme kepolisian Inggris sejauh ini.
Dikutip CNN, sedikitnya 250 petugas kontraterorisme kepolisian dikerahkan dalam penyelidikan ini. Sejauh ini petugas telah menelusuri rekaman CCTV selama 5.000 jam.

Pihak berwenang juga menyita sedikitnya 1.350 barang dan mewawancarai 500 saksi mata.

Skripal dan putrinya hingga kini masih dalam kondisi kritis. Dokter memperkirakan keduanya tidak akan bisa sembuh total.
Keduanya disebut terpapar racun saraf Novichok yang disebut dikembangkan oleh militer Uni Soviet. Racun yang tidak berwarna dan tidak berbau itu disebut sebagai salah satu senjata kimia paling canggih.

Inggris pun menuding Kremlin sebagai otak di balik serangan racun ini, hingga memutuskan mengusir 23 diplomat Rusia sebagai konsekuensi.

Langkah tersebut diikuti oleh sedikitnya 22 negara Uni Eropa dan beberapa negara lainnya di luar blok itu, seperti Amerika Serikat dan Australia. (has)