Salah satu dari para pembelot itu ialah aktivis sekaligus mantan tahanan politik Korut, Jung Gwang-il. Ia mengirimkan botol melalui laut dari Pulau Gangwha.
Botol-botol itu berisi flashdisk berisi "fakta" terkait perkembangan di negaranya, termasuk film, musik, dan video K-pop, serta informasi lainnya yang menunjukkan kehidupan maju dan bebas di Korsel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Jung menganggap pertemuan inter-Korea kemarin hanya menunjukkan bahwa Seoul "telah jatuh" dalam permainan Pyongyang.
Menurutnya, warga Korut tetap tidak banyak tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi di luar negara mereka.
"Anda tahu apa yang paling dibenci Kim Jong-un? Yang paling dibencinya adalah ketika warga Korut mulai menyadari kenyataan," kata Jung kepada AFP, Rabu (2/5).
"Kami telah hidup di Korut selama 30-40 tahun jadi kami tau persis apa yang dibutuhkan dan diinginkan warga di sana. Ketika warga Korut melihat konten dalam flashdisk-flashdisk itu, mereka akan menyadari bahwa mereka telah diperdaya oleh pemerintah," lanjutnya.
"Informasi itu menunjukkan arti kebebasan yang sebenarnya. Hal-hal yang tidak menjadi masalah di Korsel, tapi dilarang bahkan ditutup-tutupi di Korut. Itu yang ingin kami tunjukkan kepada warga di sana," ujar Jung.
Jung tak tahu pasti botol itu sampai ke tangan warga Korut atau tidak. Namun, sejumlah penjaga perbatasan mengatakan bahwa botol itu biasanya diambil oleh orang dari dalam kapal penangkap ikan Korut.
Lihat juga:Upaya Damai dan Jejak Pengkhianatan Korut |
Thae Yong-Ho, eks duta besar Korut untuk Inggris yang membelot pada 2016 lalu, menganggap pengiriman flashdisk adalah cara efektif untuk menyebarkan informasi ke Korut. (has)