Kedubes AS Pindah ke Yerusalem, Al-Qaidah Serukan Serangan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 12:01 WIB
Kedubes AS Pindah ke Yerusalem, Al-Qaidah Serukan Serangan Pemimpin al-Qaidah Ayman al-Zawahiri (kanan) menyerukan serangan terhadap Amerika Serikat. (REUTERS/Hamid Mir/Editor/Ausaf Newspaper for Daily Dawn)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin al-Qaidah Ayman al-Zawahiri menyerukan serangan terhadap Amerika Serikat yang akan membuka kedutaan besar untuk Israel di Yerusalem, Senin (14/5).

Dalam rekaman video berdurasi lima menit yang disebut 'Tel Aviv adalah Tanah Umat Muslim Juga', doktor asal Mesir itu menilai pemerintahan Presiden Mahmoud Abbas sebagai "penjual Palestina."

Dia juga menganggap keputusan AS yang berkeras memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem adalah bukti kegagalan negosiasi untuk memperjuangkan hak bangsa Palestina.


Al-Zawahiri pun mendesak para pengikutnya untuk mengangkat senjata dan berjuang melawan pemerintahan Presiden Donald Trump.
"Presiden Trump secara jelas dan eksplisit telah mengungkapkan wajah sebenarnya dari Perang Salib modern, di mana ketentraman dan jalan damai tidak lagi bisa menghentikan mereka, ucap Al-Zawahiri dikutip Kelompok Pemantau Terorisme SITE, dilaporkan AFP pada Senin.

"Tapi hanya perlawanan melalui jihad-lah yang bisa menghentikan mereka."

Al-Zawahiri mengatakan bahwa pendahulunya, Osama bin Laden, juga telah mendeklarasikan AS sebagai "musuh utama umat Muslim di seluruh dunia."

Dia bersumpah rasa aman tidak akan pernah menghinggapi benak seluruh warga AS sampai Washington bersedia hidup dalam kenyataan unuk mengakui Palestina.
Al-Zawahiri juga menganggap negara-negara Islam telah gagal bertindak memperjuangkan hak umat Muslim karena bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan tunduk pada resolusi organisasi itu, ketimbang hukum Islam.

Di sisi lain, sejumlah warga Israel menyambut rencana pembukaan kedubes AS di Yerusalem hari ini, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Israel yang ke-70.

Sekelompok warga Palestina dikabarkan akan menggelar unjuk rasa di sejumlah titik, termasuk Jalur Gaza, sebagai bentuk protes terhadap peresmian kedubes AS tersebut.

AS berkeras membuka kedubesnya untuk Israel di Yerusalem meski dunia internasional mengutuk dan menolak keputusan tersebut. Sejumlah pihak menganggap keputusan itu bisa mengancam proses perdamaian di Timur Tengah, terutama penyelesaian konflik antara Israel dan Palestina.
Namun, sejumlah pejabat AS menegaskan Gedung Putih optimistis masih bisa mendukung proses perdamaian di Timur Tengah meski keputusannya itu membuat geram seluruh dunia terutama negara Arab.

(aal)