Trump-Kim Bahas HAM, Sepakat Pulangkan Jenazah Korban Perang

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Selasa, 12/06/2018 16:05 WIB
Trump-Kim Bahas HAM, Sepakat Pulangkan Jenazah Korban Perang Presiden AS Donald Trump mengklaim Korut sepakat memulangkan ribuan korban Perang Korea 1950-1953 silam. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya sempat membahas masalah pelanggaran hak asasi manusia dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Selasa (12/6).

"Ya, itu akan dibahas lebih banyak di masa yang akan datang," kata Trump dalam konferensi pers usai pertemuan yang digelar di Pulau Sentosa, Singapura.

Walau demikain, Trump mengatakan pembahasan soal pelanggaran HAM relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan masalah denuklirisasi.


"Itu dibahas, cukup lebih singkat dibanding denuklirisasi. Jelas karena itu yang memulai dan mengawali pertemuan ini. Dia sangat pintar, negosiator yang baik," kata Trump.
Walau tak dibahas cukup panjang, Trump mengatakan Kim sempat menyepakati pemulangan jenazah korban Perang Korea 1950-1953 silam.

"Saya mendapatkan banyak sekali telepon, surat, twit, mereka ingin jenazah anak, ayah, ibunya yang sempat terperangkap perang brutal untuk dikembalikan," ujarnya.

"Saya memintanya hari ini dan kita mendapatkannya. Jenazah itu akan dipulangkan, 6.000 jenazah akan dipulangkan."

Korea Utara selama ini dituding melakukan pelanggaran HAM berupa pembunuhan di luar hukum, penyiksaan dan penculikan.
Korut juga diperkirakan mempunyai hingga 120 ribu tahanan politik di sistem gulagnya.

Sekutu dekat AS, Jepang, mendorong Trump untuk mengangkat masalah penculikan warganya yang terjadi pada era 1970-1980 silam.

Pertemuan Trump dan Kim menandai pertama kalinya dalam sejarah ada pemimpin negara dari AS dan Korut yang bertatap muka secara langsung.

Hubungan kedua negara sempat memanas sepanjang 2017 lalu, ketika Korut terus melakukan uji coba rudal dan nuklirnya. Kim dan Trump kerap silih melontarkan hinaan hingga ancaman perang.

Di saat yang sama, Korea Selatan dipimpin Presiden Moon Jae-in yang lebih mengedepankan pendekatan lunak terhadap negara tetangganya. Secara resmi, dua Korea masih berstatus musuh perang.
Keinginan Moon disambut perubahan mendadak Kim yang pada pidato akhir tahunnya menyatakan ingin memperbaiki hubungan dengan Korsel. Setelah itu, kedua negara sepakat memulai proses damai dan berdialog dengan pihak AS.

(aal)