"Ya, itu akan dibahas lebih banyak di masa yang akan datang," kata Trump dalam konferensi pers usai pertemuan yang digelar di Pulau Sentosa, Singapura.
Walau demikain, Trump mengatakan pembahasan soal pelanggaran HAM relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan masalah denuklirisasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mendapatkan banyak sekali telepon, surat, twit, mereka ingin jenazah anak, ayah, ibunya yang sempat terperangkap perang brutal untuk dikembalikan," ujarnya.
"Saya memintanya hari ini dan kita mendapatkannya. Jenazah itu akan dipulangkan, 6.000 jenazah akan dipulangkan."
Korea Utara selama ini dituding melakukan pelanggaran HAM berupa pembunuhan di luar hukum, penyiksaan dan penculikan.
Sekutu dekat AS, Jepang, mendorong Trump untuk mengangkat masalah penculikan warganya yang terjadi pada era 1970-1980 silam.
Pertemuan Trump dan Kim menandai pertama kalinya dalam sejarah ada pemimpin negara dari AS dan Korut yang bertatap muka secara langsung.
Hubungan kedua negara sempat memanas sepanjang 2017 lalu, ketika Korut terus melakukan uji coba rudal dan nuklirnya. Kim dan Trump kerap silih melontarkan hinaan hingga ancaman perang.
Di saat yang sama, Korea Selatan dipimpin Presiden Moon Jae-in yang lebih mengedepankan pendekatan lunak terhadap negara tetangganya. Secara resmi, dua Korea masih berstatus musuh perang.
(aal)