Korut Akan Gelar Festival Besar Perdana sejak 5 Tahun

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 21/06/2018 11:18 WIB
Korut Akan Gelar Festival Besar Perdana sejak 5 Tahun Ilustrasi parade di Korea Utara. (Reuters/Damir Sagolj)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara dilaporkan akan menggelar Mass Games atau festival seni dan gimnastik besar-besaran untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu.

Simon Cockerell, perwakilan agen perjalanan Koryo Tours berbasis di China, mengatakan mitranya di Pyongyang telah memberi tahu dia bahwa Mass Games akan berlangsung mulai 9 September mendatang di Stadion May Day Rungrado.

"Penampilan tahun ini akan bertemakan 'Tanah Air yang Bersinar atau Shining Fatherland'. Tema itu diambil dari judul lagu patriotik yang dibawakan oleh girl band favorit pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un, Moranbong," kata Cockerell kepada CNN, Rabu (20/6).


Cockerell menjelaskan bahwa wacana perhelatan festival ini telah berhembus dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah turis yang berkunjung ke Pyongyang bersama perusahaannya Cockerell juga telah melihat sejumlah peserta berlatih menari di seluruh sudut kota, termasuk di Kim Il-Sung Square.
Korut terakhir kali menggelar festival serupa pada 2013 untuk memperingati 60 tahun kesepakatan gencatan senjata Perang Korea yang berakhir 1953 silam.

Meski begitu, tidak ada alasan jelas festival tahunan tersebut sempat vakum selama beberapa tahun terakhir. 

Tahun ini, festival seni ini dibuka bertepatan dengan Hari Nasional Korut. Festival ini juga digelar di stadion yang diyakini terbesar di dunia karena bisa menampung hingga 150 ribu orang.

Gelaran Mass Games tahun ini dianggap menjadi pertanda bahwa Korut ingin terus lebih terbuka di hadapan komunitas internasional, terlebih setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Kim Jong-un pada 12 Juni lalu di Singapura.
Cockerell bahkan mengatakan penjual suvenir di zona demiliterisasi (DMZ) bagian Korut juga tak lagi menjual barang-barang berbau propaganda anti-Amerika seperti dulu.

Dia juga mengaku bahwa sudah banyak konsumen yang menyatakan ketertarikannya untuk mengunjungi Pyongyang saat Mass Games berlangsung.

"Bagi kami, permintaan tersebut cukup besar. Ini bagaikan undian besar bagi para turis yang ingin berkunjung ke Pyongyang karena ini baru terjadi sekali dalam lima tahun terakhir," kata Cockerell.

Meski demikian, warga AS kemungkinan besar tidak bisa berkunjung ke Pyongyang dan menyaksikan momen langka tersebut.

Sejak kematian Otto Wambier, warga AS yang menjadi tahanan Korut, Washington melarang penduduknya berkunjung ke negara terisolasi itu. (has)