Kekhawatiran Imigrasi Picu Krisis dalam Politik Barat

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 21/06/2018 15:15 WIB
Kekhawatiran Imigrasi Picu Krisis dalam Politik Barat Ilustrasi imigran. (Reuters/Marko Djurica)
Jakarta, CNN Indonesia -- Migrasi adalah isu yang mendominasi perdebatan politik di Barat dan bisa memecah negara-negara Barat. 

Donald Trump mencoba memanfaatkan sikap anti-imigrasi untuk memenangkan sejumlah kandidat partai Republik dalam pemilihan sela di AS pada November mendatang. 

Angela Merkel bersama koalisinya yang rentan, berharap bisa mengatasi gelombang sikap anti-imigran tanpa kehilangan banyak pengaruh akibat sikap ini. 


Pemerintah koalisi baru Austria dan Italia membawa suara anti-imigrasi yang terpinggirkan ke tengah panggung kekuasaan. 

Australia dikritik akibat kebijakan menahan pencari suaka yang tiba dari laut di tempat penampungan di Nauru dan Papua Nugini. 
Di tengah situasi ini, pertikaian politik di negara-negara Barat dipertajam dengan perdebatan di dunia maya yang diduga dihembuskan oleh propaganda Rusia. 

Di balik upaya memenangkan pemilu dan penyebaran informasi salah yang sengaja dihembuskan ini, memang ada tren nyata yang memiliki konsekuensi kemanusiaan dan juga politik. 

Jumlah migran masih tetap tinggi dan PBB memperkirakan potensi pengungsi dan migran di seluruh dunia mencapai 65 juta orang. 
Kekhawatiran Imigrasi Picu Krisis dalam Politik BaratIlustrasi imigran Libya. (AFP Photo/Angelos Tzortzinis)
Komisaris PBB urusan Pengungsi Filippo Grandi mengatakan masalah ini harus di atasi dengan solusi bersifat global, akan tetapi situasi yang sekarang ada lebih pada sikap nasionalis. 

Seperti diutarakan oleh Walter Russel Mead dalam artikelnya di Wall Street Journal, yang sekarang bisa membuat "pemerintah Eropa lebih rentan" adalah migrasi bukan mata uang euro. 

Warga Jerman secara luas masih berpandangan pro-Eropa, tetapi mereka masih berusaha menerima langkah Merkel untuk menerima lebih dari satu juta pencari suaka pada 2015. 

Kejahatan turun, ketakutan meningkat

Meski Trump berulang kali mengatakan bahwa migran menjadi penyebab aksi kejahatan, jumlah kejahatan di Jerman turun. 

Tetapi sejumlah insiden besar yang melibatkan para pendatang itu, termasuk serangan seksual, membakar pandangan masyarakat. 

"Kejahatan di Jerman naik 10% (para pejabat tidak mau melaporkan kejahatan ini) sejak migran diterima di sana," ujar Trump lewat akun Twitternya. 

Namun data resmi Jerman memperlihatkan bahwa angka kejahatan turun lima persen antara 2016 dan 2017, ini merupakan angka paling rendah dalam 25 tahun. 

Dutabesar AS untuk Jerman Richard Grenell dilaporkan berniat "memperkuat" kelompok kanan Eropa sementara sikap anti-imigran dihembuskan oleh musuh politik Merkel. 

Kini, mitra koalisi tradisional Kristen Demokrat yaitu Persatuan Kristen Sosial mengancam akan membubarkan pemerintah Merkel jika dia tidak menutup perbatasan.
Trump sendiri bertekad menghentikan imigrasi dari wilayah Meksiko dengan janji membangun pagar yang terus diumbar kepada para pendukungnya. 

Isu ini menyatukan dukungannya di dalam negeri, menjadi senjata ketika dia bertikai dengan Merkel dan menjadi amunisi kelompok kanan nasionalis Eropa. 

Kebijakan "tanpa toleransi" pemerintah Trump membuat petugas perbatasan AS mulai memisahkan anak-anak pendatang dari orang tua mereka dan menahannya di tenda-tenda penampungan. 

Pendukung presiden memuji langkah itu karena mengaggap warga yang menyeberang perbatasan secara ilegal akan menjadi jera. 

Namun, sikap ini berubah setelah muncul gambar dan rekaman video tentang anak-anak balita yang menangis ketika dipisahkan dari orangtua mereka. 

"Mengotori negara kita"

Pada awalnya Trump menuding partai Demokrat bertanggung jawab dan mempergunakan kata yang menyamakan para migran dengan anggota kelompok kejahatan MS-13 yang memiliki hubungan dengan El Salvador. 

"Demokrat adalah masalah," ujar Trump di akun Twitternya, yang menekankan isu migrasi akan menjadi isu tajam dalam pemilu sela mendatang. 

"Mereka tidak peduli dengan kejahatan dan ingin migran ilegal, betapapun jahatnya mereka, untuk masuk dan mengotori Negara kita, seperti MS-13."

Tetapi pada Rabu (20/6) yang merupakan Hari Pengungsi Dunia, Trump menyerah dengan menghentikan pemisahan anak dengan keluarganya. Namun dia mengaskan kebijakan "tanpa toleransi" tetap diterapkan. 
Langkah ini kemungkinan akan meredakan kritik dari partai Republik sendiri, namun imigrasi dan ras masih mendominasi perdebatan di pemilu sela. 

Di Eropa, para pemimpin Uni Eropa akan mengadakan pertemuan darurat terkait migrasi pada Minggu mendatang. 

Taruhannya sangat besar bagi pemimpin berhaluan tengah seperti Merkel dan Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan bahkan bagi Uni Eropa sendiri. 

Para pemilih Inggris telah memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa setelah kampanye referendum Brexit lolos dengan menjual sentiman anti-imigrasi. 

Kini koalisi sayap kanan Italia yang baru terbentuk menolak mengizinkan satu kapal dengan 630 imigran mendarat di wilayahnya.
Kekhawatiran Imigrasi Picu Krisis dalam Politik BaratIlistrasi. (Reuters/Giorgos Moutafis)
 Menteri Dalam Negeri Salvini, pendukung berat Trump dari partai Liga yang berhasil masuk ke pemerintah dengan menjual sikap anti-imigrasi, memperingatkan kaum "ilegal" harus segera berkemas. 

Negara-negara Mediterania yang berada di garis depan menghadapi gelombang pengungsi ini meminta Eropa utara untuk mengambil lebih banyak beban dengan menerima pengungsi yang mendarat di Eropa selatan. 

Tetapi para pemilih di Eropa Utara tidak mau menerima mereka. 

"Bagi Salvini, memanfaatkan isu migrasi adalah menang-menang-menang," tulis Russel Mead. 

"Dia memecah kubu kiri dan menyatukan kubu kanan di dalam negeri; dia menantang konsesus kaum elit Eropa; dia berhasil membuat dirinya penting di panggung internasional."

Kanselir Austria Sebastian Kurz juga memperingatkan akan "bencana" dan mendekati tokoh-tokoh garis keras seperti Viktor Orban dari Hungaria. 

Mereka adalah para pemimpin yang merasa gelombang sejarah kini bergerak mendukung mereka. (yns/has)