Erdogan Akan Kembali Dilantik Jadi Presiden Turki Hari Ini

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 09/07/2018 19:07 WIB
Erdogan Akan Kembali Dilantik Jadi Presiden Turki Hari Ini Recep Tayyip Erdogan akan kembali dilantik sebagai presiden, Senin (9/7), setelah memenangkan pemilihan umum pada awal Juni lalu. (Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Recep Tayyip Erdogan akan kembali dilantik sebagai presiden, Senin (9/7), setelah memenangkan pemilihan umum pada awal Juni lalu.

Erdogan dilaporkan akan mengucap sumpah jabatan di parlemen pada Senin sore sekitar pukul 16.00 waktu Ankara. Setelah itu, pria 64 tahun tersebut akan menghadiri sebuah acara perayaan di istana kepresidenan.

Dikutip Reuters, Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, dan mantan PM Italia Silvio Berlusconi, dikabarkan akan hadir dalam pelantikan Erdogan.


Erdogan juga dikabarkan akan mengumumkan kabinet barunya malam ini. Dia berjanji akan merampingkan jumlah menterinya dari 20 orang menjadi 16 dengan harapan bisa bekerja lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Erdogan dan koalisi Aliansi Rakyat berhasil memperolah 53 persen suara, mengalahkan enam pesaingnya dalam pemilu sela kemarin.

Kemenangan ini memungkinkan Erdogan, yang telah lebih dari 15 tahun berkuasa, memperpanjang masa jabatannya hingga 2028 mendatang.

Kemenangan Erdogan kali ini dianggap istimewa baginya karena terjadi setelah parlemen mengesahkan usulan amandemen konstitusi yang dia ajukan pada pertengahan 2017 lalu.

Di bawah aturan baru ini, kewenangan parlemen berkurang, sementara peran perdana menteri dihapuskan. Dengan begitu, Erdogan bertindak sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dan pemimpin partai berkuasa dalam waktu bersamaan.
Selain itu, undang-undang baru juga memberikan keleluasaan bagi Erdogan untuk mengeluarkan dekrit.

Dia juga diberi kewenangan menunjuk sendiri menteri kabinetnya dan sebagian besar anggota badan peradilan tertinggi negara tanpa konfirmasi parlemen.

Konstitusi baru juga memberi keleluasaan Erdogan untuk mengusulkan sendiri anggaran negara serta mengontrol aktivitas militer maupun polisi.

Dengan kewenangan baru ini, Erdogan semakin mengukuhkan cengkramannya di pemerintahan.

"Turki memasuki era baru dengan pelantikan presiden hari Senin mendatang. Dengan kewenangan yang diberikan kepada kami oleh sistem presidensial yang baru, kami akan mendapat hasil yang lebih kuat dan cepat," kata Erdogan akhir pekan lalu.
Sementara itu, oposisi menganggap kemenangan Erdogan sebagai kemunduran demokrasi di Turki dengan memberi peluang rezim otoriter berkuasa.

Penentang Erdogan juga menudingnya mengikis institusi kenegaraan sekularisme yang telah dibentuk oleh pendiri bangsa Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk.

Sejak kemenangan di pemilu kemarin, Erdogan kembali menahan ratusan pegawai negeri yang dituding mendukung Fethullah Gulen, ulama yang dituding mendalangi upaya kudeta 2016 dan kini mengasing di Amerika Serikat.

Semalam sebelum pelantikan hari ini, otoritas Turki juga telah menangkap lebih dari 18 ribu pegawai sipil seperti personel militer dan polisi terkait upaya kudeta.

Sejauh ini, total lebih dari 150 ribu pegawai negeri kehilangan pekerjaan karena dituding terlibat upaya kudeta. Kementerian Dalam Negeri Turki pada April lalu memaparkan dari ratusan ribu tersebut sekitar 77 ribu dituntut secara resmi dan dipenjarakan selama persidangan. (has)