ANALISIS

Realis vs Romantis Partai May dalam Bayang Kegagalan Brexit

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 10/07/2018 16:36 WIB
Realis vs Romantis Partai May dalam Bayang Kegagalan Brexit Pengunduran diri dua menteri sekaligus menegaskan pecah belah dalam pemerintahan Theresa May yang dianggap mengancam keberlangsungan negosiasi Brexit. (Reuters/Jack Taylor/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meminjam istilah seni, pengamat menggambarkan situasi dalam partai konservatif Inggris di bawah pemerintahan Perdana Menteri Theresa May kini terbelah menjadi dua kubu, yaitu realis dan romantis.

Kubu ini kian terlihat setelah Menteri urusan Brexit, David Davis, dan Menteri Luar Negeri, Boris Johnson, mengundurkan diri dalam kurun waktu kurang dari 24 jam karena perbedaan pendapat terkait tindak lanjut referendum Inggris untuk hengkang dari Uni Eropa.

Para menteri tersebut mewakili kaum romantis yang ingin benar-benar putus hubungan dengan Uni Eropa, sementara kubu realis masih memikirkan cara halus agar dapat tetap menjalin relasi dagang sedekat mungkin dengan blok tersebut, layaknya usulan May.


Mantan Menteri Negara urusan Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris, William Hague, mengatakan bahwa jika jurang perbedaan dalam partai ini kian dalam, bukan tak mungkin Brexit pada akhirnya akan gagal.
Dalam kolomnya di The Telegraph, Hague memaparkan bahwa kegagalan itu dapat terjadi karena hingga saat ini, kaum romantis hanya bisa mengkritik usulan May tanpa memberikan solusi konkret.

"Masalah bagi kaum Romantis yang ingin benar-benar lepas dari UE adalah mereka tidak punya rencana alternatif untuk mencapai itu dan mulai membahayakan Brexit hingga mungkin sama sekali tak terjadi," tulis Hague.
Realis dan Romantis Partai May dalam Bayang Kegagalan BrexitJajaran kabinet mendukung gagasan Theresa May karena kubu romantis tak menawarkan solusi konkret. (Reuters/Jack Taylor/Pool)
Hague kemudian menjelaskan bahwa jajaran kabinet lainnya mendukung gagasan May yang disampaikan dalam rapat pada Jumat lalu juga karena kubu romantis tak memberikan usulan alternatif dengan kredibilitas tinggi.

"Bukan karena mereka tidak imajinatif, sama sekali bukan itu. Semua karena ada tiga faktor besar yang membatasi semua rencana," tutur Hague.
Alasan pertama adalah parlemen Inggris yang terbentuk setelah referendum Brexit tak memiliki mayoritas. Dengan dasar parlemen yang tidak kuat, sangat sulit mencapai keputusan bulat, terutama terkait Brexit.

Kedua, keterikatan bisnis Inggris yang tak mungkin lepas dari pengaruh negara-negara Eropa lainnya, terutama pabrik-pabrik kendaraan, seperti Airbus, BMW, Jaguar, hingga Land Rover.

"Rakyat memang memilih untuk keluar (dari Uni Eropa), tapi mereka juga menginginkan jaminan perusahaan-perusahaan manufaktur besar di Inggris tetap aman," kata Hague.

Faktor ketiga adalah kisruh di perbatasan dengan Irlandia Utara. Jika Inggris mengikuti keinginan kaum romantis, Irlandia Utara kemungkinan akan menuntut pemisahan pengaturan ekonomi sehingga mereka dapat tetap bergabung dengan UE.

"Para Realis dapat dengan jelas melihat ini sebagai masalah yang vital dan fundamental. Kita tidak seharusnya meninggalkan UE hanya untuk melihat Inggris terpecah," tulis Hague.
Realis dan Romantis Partai May dalam Bayang Kegagalan BrexitWilliam Hauge mengatakan bahwa pada akhirnya hanya ada dua alternatif solusi Brexit, semuanya tak menyenangkan kubu romantis, termasuk Boris Johnson. (Jeff Overs/BBC/Handout via Reuters)
Pada akhirnya, menurut Hague, hanya ada dua alternatif solusi dan semuanya tak akan menyenangkan kubu romantis.

"Satu adalah kesepakatan yang masih lebih halus - tetap bergabung Serikat Pabean Uni eropa atau tetap bergabung di pasar tunggal. Pilihan lainnya adalah tak hengkang sama sekali," kata Hague dalam kolom di The Telegraph.

Menurut Hague, keinginan Davis dan Johnson memang tidak akan tercapai. Namun, pengunduran diri mereka membuka momentum baru.

"Ada kesempatan membuka momentum baru untuk mendesak referendum kedua atau melemahkan posisi negosiasi Inggris," katanya.

Namun, Jane Merrick dalam analisisnya di CNN mengatakan bahwa kepergian Davis dan Johnson sebenarnya tak akan berpengaruh terhadap tenggat waktu Brexit yang sudah diatur dalam Pasal 50.
Dalam hukum tersebut, Inggris tetap harus meninggalkan UE dua tahun setelah referendum, tepatnya pada 29 Maret 2019.

Kini, Uni Eropa masih menunggu Inggris untuk menetapkan posisinya, benar-benar ingin lepas atau masih mau menjalin hubungan dagang sedekat mungkin.

"Brexit masih akan terjadi, pertanyaannya masih akan tetap sama - dalam bentuk seperti apa? Jika faksi pro-Brexit mengambil alih kepemimpinan partai, berarti keputusannya antara benar-benar putus hubungan atau tak ada kesepakatan sama sekali," tulis Merrick.

Menutup analisisnya, Merric menulis, "Jika May dapat bertahan, dia harus berkompromi dengan posisi halusnya terkait Brexit." (has/has)