RI Desak Malaysia Beri Akses Verifikasi Tiga WNI Terduga ISIS

Christie Stefanie & Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 19:39 WIB
RI Desak Malaysia Beri Akses Verifikasi Tiga WNI Terduga ISIS Menlu Retno mendesak Malaysia segera memberikan akses kekonsuleran untuk memverifikasi status tiga WNI yang baru-baru ini ditangkap karena diduga terkait ISIS. (ANTARA Foto/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mendesak Malaysia segera memberikan akses kekonsuleran untuk memverifikasi status tiga warga Indonesia yang baru-baru ini ditangkap karena diduga terlibat kelompok teror ISIS.

Ketiga WNI itu ditangkap di Negeri Jiran dalam waktu dan di tempat yang berbeda antara 12-14 Juli lalu. Retno mengatakan hingga kini Kuala Lumpur belum memberikan notifikasi resmi kepada pemerintah Indonesia soal penangkapan tersebut.
"Kami mengetahui informasi penangkapan ini hanya dari rilis Kepolisian Malaysia (PDRM) saja. Tapi, sejak siang kami telah menghubungi aparat Malaysia untuk minta akses kekonsuleran," kata Retno kepada wartawan di Gedung Pancasila, Jakarta, Kamis (19/7) petang.

Retno mengatakan akses kekonsuleran bersifat krusial untuk pihak Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur agar bisa segera bertemu dengan ketiga WNI dan memverifikasi status kewarganegaraan mereka.


Selain itu, KBRI juga perlu menghimpun serta menyesuaikan data ketiga WNI dengan sistem yang dimiliki pemerintah.

"Karena kami harus memastikan dahulu bahwa ketiga orang itu benar WNI, baru bisa menyelidiki peran dan aktivitas mereka," papar Retno.
Dalam kesempatan berbeda, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Retno juga menyatakan hal yang serupa.

Hingga kini kepolisian Malaysia baru menyebutkan kronologi penangkapan dan belum merilis identitas ketiga WNI. Mereka ditangkap bersama empat warga Malaysia yang sama-sama dituduh ISIS, termasuk seorang pria yang berniat membunuh Raja dan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.

Penangkapan pertama terjadi pada 12 Juli lalu di Terengganuyang melibatkan seorang tersangka laki-laki asal Indonesia berusia 26 tahun. Berdasarkan keterangan PDRM, pria yang berprofesi sebagai pedagang itu merupakan anggota kelompok Negara Islam Indonesia (NII) dan telah berbaiat dengan pemimpin tertingginya di Bandung.

Tersangka juga disebut sempat menjalani beberapa kali pelatihan militer kelompok NII di sekitar Bandung antara 2015-2018. Istri tersangka yang berkewarganegaraan Malaysia turut menyatakan berbaiat kepada ISIS.
PDRM menyebut terduga berencana membawa istri dan anak-anak tirinya untuk pergi ke Suriah guna bergabung dengan ISIS.

Di hari yang sama, polisi juga menangkap seorang WNI berusia 27 tahun di Petaling Jaya. Pria itu disebut bekerja sebagai pegawai kontrak.

Menurut PDRM, tersangka mengaku terlibat ISIS dan menyimpan sekitar 100 video serta 90 gambar di telepon genggam mliknya. Dia juga mengunggah foto-foto dan video mempromosikan ISIS tersebut di laman Facebook-nya.

"Tersangka juga merancang untuk menyertai kelompok ISIS di Suriah," tulis PDRM lewat akun Twitter-nya.
WNI ketiga ditangkap pada 14 Juli 2018 di Ipoh, Perak. Tersangka berusia 42 tahun dan bekerja sebagai karyawan pabrik.

PDRM mengatakan terduga mengaku punya hubungan dengan anggota Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang terlibat dalam pembunuhan seorang anggota Polri pada 10 Mei lalu di Markas Brimob, Kelapa Dua.

(aal)