AS Deteksi Aktivitas di Pabrik Rudal Korut, Dua Korea Bertemu

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 31/07/2018 14:28 WIB
AS Deteksi Aktivitas di Pabrik Rudal Korut, Dua Korea Bertemu Ilustrasi Rudal Korut. (REUTERS/KCNA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara dan Selatan menggelar dialog militer pada Selasa (31/7), di tengah peningkatan ketegangan usai Amerika Serikat menyebut ada aktivitas baru di sebuah pabrik peluru kendali Korut.

Pertemuan kedua sejak Juni digelar di Panmunjom, di zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua negara. Kegiatan ini didesain untuk menindaklanjuti konferensi tingkat tinggi di mana Korut-Korsel sepakat meredakan ketegangan dan menghentikan "semua aksi permusuhan."

Kim Do-gyun, negosiator utama Korsel yang bertanggung jawab atas kebijakan terkait Korut di Kementerian Pertahanan, mengatakan kepada wartawan sebelum berangkat ke DMZ bahwa ia akan berupaya menciptakan langkah "substantif" untuk meredakan ketegangan dan membangun kepercayaan.


Kemhan Korea Selatan pekan lalu menyatakan berencana mengurangi pos penjagaan dan perlengkapan di sepanjang perbatasan sebagai langkah awal menerapkan kesepakatan.
Pada Senin, seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah satelit mata-mata negaranya mendeteksi aktivitas baru di pabrik Korea Utara yang memproduksi rudal balistik antarbenua alias ICBM pertama dengan kemampuan mencapai daratan utama Amerika.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pekan lalu menyatakan bahwa Korea Utara terus memproduksi bahan bakar bom nuklir meski pemimpin negara tersebut, Kim Jong-un, telah bersumpah mengupayakan denuklirisasi saat bertemu Presiden Amerika Donald Trump di Singapura bulan lalu.

Setelah KTT itu, Trump langsung mendeklarasikan Korea Utara tak lagi memberikan ancaman nuklir, tapi Pyongyang tak pernah memberikan detail terkait upaya denuklirisasi dan dialog tindak lanjutnya tak pernah berjalan lancar.

Media pemerintah Korut belum lama ini mengecam Korsel karena tak bisa segera bergerak memperbaiki hubungan antar-Korea dan hanya memedulikan pandangan Amerika Serikat yang menyerukan penegakan sanksi.
Rodong Sinmun, surat kabar resmi partai Korut, menuding Seoul "membuang waktu" menunggu pencabutan sanksi yang hanya akan dilakukan setelah denuklirisasi terselesaikan, tanpa "mengambil tindakan apapun."

Surat kabar itu menyerukan sejumlah langkah untuk memfasilitasi dimulainya kembali sejumlah program bersama yang sempat dikelola bersama tapi kemudian ditutup, termasuk Kompleks Industri Kaesong dan wisata ke Gunung Kumgang di Korut.

Situs propaganda Korut Uriminjokkiri juga mengkritik Korsel atas sikapnya yang mempertahankan sanksi. "Sanksi dan dialog tak bisa berjalan bersamaan," bunyi pernyataan di situs tersebut.

(aal)