Diplomat AS Sakit, Diduga Gara-gara Senjata Gelombang Mikro

AFP, CNN Indonesia | Senin, 03/09/2018 15:10 WIB
Diplomat AS Sakit, Diduga Gara-gara Senjata Gelombang Mikro Senjata gelombang mikro semakin diduga kuat sebagai penyebab puluhan diplomat AS di Kuba dan China jatuh sakit. (Ilustrasi gelombang mikro/Istockphoto/Maxiphoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokter dan ilmuwan semakin yakin dengan penggunaan gelombang mikro sebagai senjata yang menyebabkan puluhan diplomat AS di Kuba dan China menderita penyakit misterius.

Para korban itu melaporkan mendengar suara bernada tinggi di kamar hotel atau rumah yang kemudian membuat mereka mengalami gejala-gejala seperti mual, sakit kepala hebat, kelelahan, pusing, sulit tidur dan kehilangan pendengaran.

Dalam studi yang diterbitkan Jurnal Asosiasi Medis Amerika Maret lalu, satu tim medis AS memeriksa 21 orang yang terkena penyakit ini di Kuba tidak menyebut senjata gelombang mikro sebagai penyebab.
Namun, Douglas Smith yang memimpin tim medis ini mengatakan kepada harian New York Times bahwa mereka sekarang mempertimbangkan senjata gelombang mikro sebagai penyebab utama dan tim medis ini semakin yakin para diplomat dan keluargany aitu menderita kerusakan otak.


"Pada awalnya semua orang bersikap skeptis," katanya kepada New York Times seperti dikutip Reuters, "dan semua sekarang sepakat ada sesuatu di sana."

Departemen Luar Negeri atau FBI belum secara terbuka mengatakan senjata gelombang mikro sebagai penyebab masalah ini, dan harian New York Times mengatakan masih banyak pertanyaan terkait pelaku serangan itu dan alasannya.
Senjata Gelombang Mikro Diduga digunakan di Kuba dan ChinaPemerintah AS menarik lebih dari setengah staf kedutaan negara itu di Havana, Kuba karena dugaan serangan senjata gelombang mikro. (Reuters/Stringer)
Setelah menyebut Kuba bertanggung jawab, dalam melakukan serangan atau tidak bisa melindungi pejabat AS, pada September 2017 Amerika Serikat menarik lebih dari setengah staf kedutaan besar di negara itu dan mengusir 15 diplomat Kubat dari Washington.

Pemerintah Kuba dengan tegas menyangkal terlibat atau mengetahui insiden tersebut.

Pada Juni 2018, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan memanggil pulang pegawai negerinya dari China setelah melaporkan insiden serupa di sana.

Penelitian Gelombang Mikro

Menurut harian New York Times, ilmuwan AS bernama Allan Frey pertama kali menemukan pada 1960 bahwa otak bisa menerima gelombang mikro sebagai suara.

Penemuannya membuka bidang penelitian baru yang pada akhirnya membuat AS dan Uni Soviet melakukan penelitian lebih jauh terhadap potensi gelombang mikro untuk digunakan sebagai senjata nonkonvensional.
Rusia menyebut bidang ini sebagai psikofisik atau psikotronik.

Harian ini menulis pada 1976 Badan Intelilijen Pertahanan AS memperingatkan bahwa penelitian Uni Soviet di bidang gelombang mikro berpotensi untuk "mengganggi pola perilaku personel militer dan diplomatik."

Satu pernyataan Badan Keamanan Nasional yang berhasil didapat oleh seorang pengacara yang mewakili kliennya menggambarkan bagaimana satu negara adidaya asing membangun satu senjata "yang didisain untk membanjiri rumah target dengan gelombang mikro dan menyebabkan berbagai dampak terhadap fisiknya seperti kerusakan sistem syaraf," tulis New York Times.

Militer AS juga meneliti senjata gelombang mikro dan angkatan udara negara itu berhasil mendapatkan hak paten penemuan menembak pidato provokasi ke kepala musuh.

Para peneliti angkatan laut AS mempelajari penggunaan efek Frey yang mempergunakan suara dengan kekuatan tertentu sehingga menimbulkan rasa sakit dan bahkan melumpuhkan sasaran.
Harian ini mengatakan tidak mendapat informasi apakah pemerintah AS telah menggunakan senjata itu. (yns/yns)