Presiden AS Donald Trump telah menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada 2015. Namun bulan lalu, AS mulai agresif untuk memberlakukan sanksi bagi negara lain yang tetap melakukan perdagangan dengan Iran.
Fase kedua sanksi ekonomi AS terhadap Iran ini akan menargetkan industri minyak dan sektor perbankan. Rencana sanksi ini akan dilancarkan pada 5 November mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, perusahaan-perusahaan minyak Jepang tengah bersiap untuk menghentikan impor minyak mentah dari Iran dan mencari cara untuk mendapat pengganti impor minyak dari negara lain untuk menutup kekurangan.
Seorang pejabat dari Kementerian Perdagangan mengkonfirmasi bahwa Jepang telah mengangkat masalah pengabaian ini kedalam pertemuan dengan AS, tetapi menolak berkomentar lebih lanjut.
"Kami telah mengatakan kami akan mengamati keputusan pemerintah (tentang impor minyak Iran), tetapi kami tidak dapat berkomentar lebih lanjut karena kami tidak mengungkapkan informasi mengenai perdagangan individu," kata dia, seperti dikutip AFP.
Konglomerat minyak dan metal Jepang, JXTG, juga menolak untuk mengkonfirmasi laporan tersebut. Sumber daya Jepang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, meskipun minyak mentah dari Iran hanya menyumbang 5,3 persen dari total impor negara itu tahun lalu. (cin/eks)