Rusia dan Turki Setujui Zona Demiliterisasi di Idlib Suriah

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 00:50 WIB
Rusia dan Turki Setujui Zona Demiliterisasi di Idlib Suriah Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Sputnik/Mikhail Klimentyev/Kremlin via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Rusia dan Turki telah bersepakat menciptakan zona demiliterisasi di sekitar Idlib, Suriah. Kesepakatan ini ditujukan untuk mencegah serangan militer di provinsi yang dikuasai para pemberontak.

"Kami telah memutuskan untuk membuat zona demiliterisasi sekitar 15 hingga 20 kilometer jauh di sepanjang garis kontak antara oposisi bersenjata dan pasukan rezim pada 15 Oktober tahun ini," kata Presiden Rusia Vladimir Putin dikutip dari AFP, Senin (17/9).

Putin telah berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan selama lebih dari empat jam. Menurut Putin, kesepakatan ini perlu diikuti dengan penarikan semua kombatan radikal dari Idlib termasuk Front Al-Nusra.


Kedua pemimpin itu juga setuju menarik persenjataan berat dari zona demiliterisasi, termasuk tank, beberapa sistem roket peluncuran, dan peluncur roket milik semua kelompok bersenjata.


"Pengendalian di zona demiliterisasi akan diatur bersama dengan kelompok patroli dari kontingen Turki dan kontingen polisi militer Rusia," katanya.

Putin menambahkan pada akhir tahun, rute transportasi antara Latakia dan Aleppo serta Latakia dan Hama harus dipulihkan.

Erdogan mengatakan tindakan itu akan "mencegah krisis kemanusiaan."

Rusia dan Turki Setujui Zona Demiliterisasi di Idlib SuriahTentara Turki Menuju Idlib. (Anadolu/Cem Genco)
Kantor berita Rusia melaporkan, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan perjanjian antara Putin dan Erdogan dengan demikian tidak ada lagi tindakan militer yang akan diambil di Idlib.


Pasukan yang didukung Rusia dari rezim Suriah telah berkumpul di sekitar provinsi Idlib dalam beberapa pekan terakhir.

Hal itu memicu kekhawatiran akan serangan udara dan darat yang akan segera terjadi untuk merebut kembali benteng oposisi besar terakhir.

Sebelumnya, militer Turki mengirim pasukan tambahan dalam jumlah terbesar ke Idlib. Hal itu untuk mencegah serangan pasukan Presiden Bashar al-Assad yang dibantu Rusia.

Pasukan ini dikirim menuju titik observasi Turki di Idlib bernama Jisr al-Shugur pada Minggu (16/9).

(pmg/pmg)