Bebas, WNI Sandera Abu Sayyaf Khawatirkan Masa Depan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 19/09/2018 16:06 WIB
Bebas, WNI Sandera Abu Sayyaf Khawatirkan Masa Depan Sepupu seorang WNI sandera Abu Sayyaf, Rudi Wahyudin (kanan), kemudian menuturkan kegundahan hati kerabatnya itu kepada para wartawan. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Baru saja dibebaskan dari penyanderaan kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina, seorang warga negara Indonesia harus langsung menghadapi kebingungan akan masa depannya.

Subandi bin Sattu menyampaikan keluhan itu setelah bertemu dengan keluarganya di kantor Kementerian Luar Negeri pada Rabu (19/9), beberapa hari usai dibebaskan dari sekapan Abu Sayyaf.

Sepupu Subandi, Rudi Wahyudin, kemudian menuturkan kegundahan hati kerabatnya itu kepada para wartawan.
"Tadi istrinya menyampaikan kepada saya, 'Tolong diperhatikan suami saya, kebetulan dia sudah kembali dan masih tidak tahu apa yang harus dikerjakan,'" tutur Rudi.


"Dan itu menjadi tanggung jawab saya sebagai keluarga untuk memikirkan apa yang harus dikerjakan nanti pasca penyerahan sandera ke keluarga ini."

Rudi menjelaskan bahwa kondisi alam di Bulukumba, Sulawesi Selatan, terdiri dari 10 kecamatan, tujuh di antaranya merupakan pertemuan langsung dengan laut sehingga sebagian besar warga berprofesi sebagai nelayan.
"Secara umum masyarakat bekerja sebagai nelayan, dan kebetulan Subandi merupakan perantauan yang bekerja di Malaysia," kata Rudi.

Namun, sejak penyanderaan marak terjadi, masyarakat di Bulukumba menjadi takut melaut.

"Sebagian besar masyarakat di sana tidak mau lagi meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari sesuap nasi," kata Rudi.

Selain Rudi, dua WNI sandera Abu Sayyaf lainnya juga diserahkan kepada keluarganya pada hari ini, mereka adalah Hamdan bin Saleng dan Sudarling bin Samansunga asal Selayar.
Para WNI adalah nelayan yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan Malaysia. Mereka diculik saat sedang menangkap ikan dengan kapal BN 838/4/F di Perairan Taganak, Sabah, pada 18 Januari 2017.

Mereka dibebaskan dari penyanderaan di Sulu, Filipina selatan, pada 15 September lalu sekitar pukul 14.00 waktu setempat.

Dengan pembebasan ini, seluruh WNI yang diculik oleh kelompok bersenjata Filipina sebelum 2018 sudah berhasil dibebaskan. (cin/has)