KBRI Oman Tak Tahu soal Uang Pelicin untuk Masuk Yaman

Tim , CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 12:21 WIB
KBRI Oman Tak Tahu soal Uang Pelicin untuk Masuk Yaman Konflik di Yaman membuat pemerintah Oman mengeluarkan kebijakan untuk melarang warga asing masuk/keluar ke Yaman lewat Oman (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Oman di Muscat mengaku tak menerima informasi mengenai adanya "uang pelicin" yang terpaksa dikeluarkan sejumlah warga negara Indonesia kepada penjaga perbatasan bagi mereka yang ingin masuk ke Yaman melalui perbatasan Oman.

"Saya tidak mendapatkan informasi tentang hal tersebut," kata Duta Besar RI untuk Oman, Musthofa Taufik Abdul Latif, kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (9/10).

Pernyataan itu diutarakan Musthofa menanggapi pernyataan Ketua Persatuan Pelajar Indonesua (PPI) Yaman, Izzudin Mufian, yang mengklaim bahwa beberapa WNI yang ditolak masuk ke Yaman terpaksa membayar sekitar 250 dolar per orang sebagai pelicin agar diizinkan masuk oleh otoritas setempat.


"Kami harus terlantar berjam-jam bahkan berhari-hari di perbatasan berharap kemurahan hati penjaga perbatasan untuk memperbolehkan kami masuk ke Yaman," ungkap Izzudin kepada CNNIndonesia.com kemarin (8/10).

"Bahkan saya menerima beberapa laporan WNI dipaksa untuk membayar sekitar 250 dolar per orang agar bisa masuk. Sangat memalukan sekali."

Hal tersebut dikatakan Izzudin menyusul sekitar 200 WNI yang saat ini masih terkatung-katung diperbatasan Oman. Mereka ditolak masuk ke Yaman sejak tiga pekan lalu. Sebagian besar WNI itu merupakan pelajar yang ingin meneruskan studinya di Yaman.

Izuddin mengklaim KBRI Yaman di Sana'a yang kini berpindah ke Salalah serta KBRI Oman di Muscat kurang tanggap menyelesaikan masalah ini.

Izuddin mengaku telah mengetahui bahwa pemerintah telah mengeluarkan peringatan perjalanan ke Yaman melalui aplikasi safe travel. Namun ia bersikukuh bahwa sosialisasi KBRI Sana'a maupun KBRI Muscat dinilai masih sangat kurang.

"Sama sekali tidak ada sosialisasi KBRI terhadap peraturan ini, jadi teman-teman sudah kadung berangkat di perbatasan tapi akhirnya terlunta-lunta disana," kata Izzudin.

Menanggapi hal itu, Musthofa membenarkan kabar ratusan WNI yang masih terdampar diperbatasan Oman karena ditolak masuk ke Yaman.

Dia mengatakan saat ini pihaknya masih berusaha membantu ratusan WNI tersebut agar bisa segera masuk ke Yaman dan meneruskan studinya.

"KBRI Sana'a yang berada di Salalah dan KBRI Muscat sedang melakukan pendataan WNI yang ingin masuk ke Yaman. Kita sedang mengusaha agar mereka dapat masuk ke Yaman dan bisa meneruskan studinya," katanya.

Meski begitu, Musthofa mengatakan pemerintah Oman memang telah mengeluarkan larangan bagi warga negara asing masuk ke Yaman melalui perbatasan negaranya. Hal itu, paparnya, juga telah disosialisasikan KBRI melalui aplikasi safe travel yang memang diperuntukan bagi WNI yang tengah berada di luar negeri.

"Pada Mei 2018 Pemerintah Oman telah menyampaikan tidak diperbolehkannya bagi seluruh warga negara asing termasuk warga negara-negara Teluk untuk berpergian ke Yaman melalui wilayah-wilayah perbatasan Oman, kecuali telah mendapatkan persetujuan surat keterangan resmi dari Pemerintah atau Kantor Misi Diplomatik mereka untuk berpergian ke Yaman," ujar Musthofa.

"Informasi tersebut juga telah disosialisasikan oleh Kementerian Luar Negeri RI, terutama Direktorat
Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia."

Kabat ratusan WNI yang terlantar di perbatasan Oman-Yaman ini pertama kali terungkap setelah media memberitakan bahwa putri pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ditolak masuk ke Yaman oleh otoritas Oman, kemarin.

Putri Rizieq dikabarkan ditolak masuk bersama ratusan pelajar lainnya yang ingin studi ke Yaman. (rds/eks)