Setahun Berlalu, Pembunuh Jurnalis Antikorupsi Belum Ketemu

AFP, CNN Indonesia | Senin, 15/10/2018 02:10 WIB
Setahun Berlalu, Pembunuh Jurnalis Antikorupsi Belum Ketemu Aksi mengenang Daphne Caruana Galizia, jurnalis di Malta yang tewas akibat bom mobil. (AFP/ Matthew Mirabelli )
Jakarta, CNN Indonesia -- Kematian jurnalis antikorupsi, Daphne Caruana Galizia, setahun lalu menjadi gambaran betapa peliknya masalah demokrasi di Republik Malta. Negara di selatan Italia ini belum bisa menemukan siapa orang yang memerintahkan pembunuhan itu.

Pada 16 Oktober 2017, Caruana Galizia terbunuh dalam aksi bom mobil. Tiga orang yang terlibat upaya itu telah ditangkap dan menghadapi persidangan, namun pembunuh sebenarnya diklaim masih bebas berkeliaran.


Setelah kematian Caruana Galizia, konsorsium jurnalis internasional meluncurkan proyek Daphne. Proyek ini dikoordinasikan Forbidden Stories, organisasi berbasis di Paris yang mendedikasikan investigasi jurnalis yang telah meninggal atau di penjara.


Ironisnya, saat jurnalis di luar negeri mampu melanjutkan pekerjaan Caruana Galizia, pihak yang melakukan itu di Malta justru dilabeli pengkhianat.

"Bila orang yang bertanggung jawab untuk ini diketahui, mungkin kami bisa tenang melihat keadilan ditegakan. Saya yakin mereka tidak pernah menyadari hal ini bisa sampai sejauh ini, bahwa ini bisa berubah menjadi sesuatu yang penting dan internasional," kata Tania Attard, pendukung kebebasan berbicara, seperti diberitakan AFP, Minggu (14/10).


Caruana Galizia dalam blognya mengeksplorasi skandal di negara kepulauan yang hanya ditinggali kurang dari 500 ribu warga itu. Skandal yang diungkap di antaranya tentang penyelundupan bahan bakar, cuci uang, dan rekening bank untuk nepotisme yang melibatkan anggota pemerintahan serta kejahatan terorganisasi.

Kerja jurnalis di Malta dalam tekanan.

Jurnalis dan blogger Manuel Delia mengatakan dia mendapat ancaman dan hinaan di jalanan karena pekerjaannya, termasuk berbicara dengan jurnalis asing, seperti dilakukan Caruana Galizia saat masih hidup.

"Semakin jauh waktu berlalu semakin kami menyadari demokrasi tidak terlalu berjalan bagus di sini, supremasi hukum tidak berlaku," ucap Delia yang bekerja selama bertahun-tahun untuk partai nasionalis sampai 2013 pindah ke partai buruh.  

"Institusi benar-benar diperintah pemerintah dan pemerintah dirasuki orang-orang yang termotivasi oleh kekuatan dan keuntungan pribadi," kata Delia lagi.


Kata Terakhir Caruana Galizia

Kondisi saat ini, pendukung Caruana Galizia terus muncul ke publik pada tanggal 16 tiap bulan, menuntut keadilan. Sementara itu, para pejabat secara teratur mengirimkan pembersih jalan untuk membersihkan bermacam bentuk peringatan yang terus muncul di pusat bersejarah Valletta.

Simon Busuttil, pemimpin oposisi politik pada partai buruh, terdiri dari partai nasionalis, menjelaskan investigasi dan tuduhan Caruana Galizia melewati batas partai. Walaupun dijelaskan Caruana Galizia dikatakan lebih sering mengusik partai buruh.

"Anda tahu kata terakhir dia (dalam blog Caruana Galizia) kita 'dalam situasi putus asa' dan saya merasa situasi hari ini bahkan lebih putus asa lagi," ucap Busuttil kepada AFP.

"Karena orang yang memerintahkan pembunuhan itu masih bebas dan karena cerita korupsi yang dia ungkapkan tidak pernah terselesaikan dan cerita korupsi itu melibatkan orang-orang yang sebenarnya menjalankan negara ini," ucap Busuttil. (fea)