Korut-Korsel Lakukan Pertemuan, Perbarui Kerjasama Ekonomi

Tim , CNN Indonesia | Senin, 15/10/2018 13:55 WIB
Korut-Korsel Lakukan Pertemuan, Perbarui Kerjasama Ekonomi Menteri Penyatuan Korea Selatan Cho Myoung-gyon dan Ri Son Gwon, Kepala Komite Korea Utara untuk Reunifikasi Damai (AFP Photo/Korea Pool/-/South Korea Out)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) melakukan pertemuan untuk mendiskusikan langkah untuk memperbarui kesepakatan kerjasama ekonomi kedua negara.

Pembicaraan yang dilakukan di perbatasan desa Panmunjom dipimpin oleh Menteri Penyatuan Korea Selatan Cho Myoung-gyon dan Ri Son Gwon, Kepala Komite Korea Utara untuk Reunifikasi Damai yang mengani masalah perbatasan.

Dalam pertemuan yang dilakukan hari ini (15/10), Korut berharap pertemuan ini bisa mendapat hasil yang substansif dan tidak hanya berupa efek kehumasan saja. Hal ini diungkap Ri kepada wartawan di lokasi pertemuan.


Pertemuan ini tetap dilakukan meski dibayang-bayangi kekhawatiran Amerika Serikat mengenai semakin eratnya hubungan kedua Korea yang dinilai tergesa-gesa.

"Kami berada pada momen yang sangat kritis untuk denuklirisasi semenanjung Korea dan peningkatan relasi antar-Korea. Selain itu, akan segera dilaksanakan juga pertemuan puncak antara Korut-AS," jelas Cho kepada wartawan sebelum pergi ke Demilitarized Zone (DMZ).

Pertemuan pada Senin ini dilakukan untuk menentukan langkah selanjutnya setelah pertemuan puncak ketiga bulan lalu antara Presiden Korut Kim Jong Un dan Presiden Korsel Moon Jae-in, seperti dijelaskan menteri reunifikasi itu.

Moon dan Kim sepakat untuk melanjutkan kerjasama ekonomi, termasuk menghubungkan lagi jalanan dan rel kereta api. Korea Utara juga menyuatakan akan segera melenyapkan fasilitas misil utama milknya dihadapan para ahli asing.

Sebelum pertemuan ini, Cho menyebut bahwa ia dan Ri akan bekerja untuk menyelesaikan jadwal pembicaraan selanjutnya setelah pertemuan puncak bulan lalu.

Menjelang pembicaraan hari ini, Korea Selatan sempat melarang seorang jurnalis Korea Utara yang dinilai sebagai pembelot negaranya dari gerombolan wartawan yang meliput acara tersebut.

"Saya hancur," kata Kim Myong-sung dari Chosun Ilbo, koran konservatif Korea Selatan, kepada Reuters. Menurutnya ia telah diberitahu tentang keputusan itu tepat sebelum dia akan berangkat ke DMZ.

"Itu adalah keputusan yang tidak dapat diterima yang mereka buat secara sepihak, yang membatasi aktivitas saya sebagai seorang jurnalis."

Seorang juru bicara Kementerian Unifikasi mengatakan keputusan itu dibuat karena pembicaraan diadakan di "ruang terbatas" dan Kim "sangat terkenal", tetapi menambahkan bahwa pihak Korea Utara tidak melakukan tekanan untuk melakukan hal tersebut.

Para pembelot Korea Utara dan kelompok hak asasi manusia di Selatan mengatakan mereka berjuang untuk mengumpulkan uang dan menghadapi tekanan untuk menghindari kritik dari Pyongyang ketika hubungan lintas-perbatasan mencair. (eks/eks)