Pilpres Putaran Kedua, Puluhan Akun Palsu di Brasil Ditutup

Tim , CNN Indonesia | Selasa, 23/10/2018 11:25 WIB
Pilpres Putaran Kedua, Puluhan Akun Palsu di Brasil Ditutup Akun media sosial palsu yang dukung capres Brasil yang sempat ditikam, Jair Bolsonaro, ditutup oleh Facebook (REUTERS/Adriano Machado)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbagai akun palsu media sosial yang mendukung kemenangan Calon Presiden Brasil, Jair Bolsonaro ditutup oleh Facebook.

Facebook menutup sebanyak 68 halaman dan 43 akun yang diduga digunakan untuk menggiring opini positif bagi capres Brasil yang sempat ditikam itu. Mereka juga mengeluarkan pernyataan bahwa perusahaannya akan bertindak untuk melawan akun-akun yang terkait dengan Raposos Fernandes Associates (RFA) karena melanggar kebijakan spam.

"Orang-orang di belakang RFA membuat halaman menggunakan akun palsu atau banyak akun dengan nama yang sama. Kemudian, mereka menggunakan halaman itu untuk memposting berbagai clickbait yang ditujukan untuk mengarahkan orang-orang ke situs web iklannya," kata dia.


Facebook bersikeras bahwa halaman dan akun itu dihapus karena memposting spam, bukan karena jenis konten yang diposting.

Surat kabar Brasil, O Estado de S. Paulo melaporkan bahwa 10 hari yang lalu, akun RFA membentuk jaringan dukungan besar-besaran untuk kemenangan Bolsonaro yang melawan Fernando Haddad dalam putaran kedua pada Minggu (28/10).

Berbagai halaman di akun itu menghasilkan 12,6 juta interaksi menjelang artikel di surat kabar itu. Koran itu juga menyebut bahwa interaksi ini lebih banyak dibandingkan dengan pemain sepak bola seperti Neymar.

Bolsonaro memimpin posisi teratas dengan perolehan 46 persen suara di putaran pertama. Dalam sebuah jajak pendapat, dirinya juga memimpin 18 poin dari Haddad.

Sejak September, Bolsonaro tidak dapat berkampanye secara langsung karena dirawat di rumah sakit setelah serangan publik yang membuatnya mengalami luka tusukan di perut.

Sehingga Bolsonaro sering melakukan kampanye secara online. Dirinya memiliki 14 juta pengikut di facebook, twitter, dan instagram. Sedangkan Haddad hanya memiliki 2,8 juta pengikut.

Pada pekan lalu, surat kabar Folha de S. Paulo mengklaim adanya jutaan pesan pedukung Bolsonaro beredar di Whatsapp tepat sebelum pemilihan putaran pertama.

Jika hal itu benar, maka akan dianggap sebagai kejahataan bisnis untuk membiayai kampanye.

Pengadilan Tinggi Brasil dan kepolisian federal telah membuka penyelidikan, sementara Haddad menyerukan agar Bolsonaro didiskualifikasi.

Namun, para kandidat Bolsonaro juga menuduh bahwa Partai Buruh Haddad mempublikasikan informasi palsu selama kampanye. (cin/eks)