Bantuan Qatar Masuk Palestina, PNS Gaza Akhirnya Gajian

CNN Indonesia | Senin, 12/11/2018 12:42 WIB
Bantuan Qatar Masuk Palestina, PNS Gaza Akhirnya Gajian Ilustrasi pustakawan di Palestina. (AFP PHOTO / MOHAMMED ABED)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Qatar berhasil mengirim uang US$15 juta (sekitar lebih dari Rp221 juta) untuk membantu warga Jalur Gaza, Palestina. Perundingan untuk mengirim uang itu melalui Israel sangat alot dan baru berhasil dilakukan pada Kamis (8/11) pekan lalu, setelah menunggu berbulan-bulan.

Seperti dilansir CNN, Senin (12/11), uang bantuan dari Qatar itu dibawa dalam bentuk tunai oleh perwakilan Qatar untuk Jalur Gaza, Muhamad Al Amadi. Seluruhnya ditempatkan pada tiga koper berukuran besar.

Menurut Amadi, uang itu akan dipakai untuk membayar gaji para pegawai negeri sipil di Jalur Gaza dan membeli beragam kebutuhan masyarakat setempat seperti makanan, obat-obatan, dan membayar bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik.
Mendengar kabar itu, para abdi negara di Jalur Gaza rela mengantre di sejumlah kantor pos untuk mengambil gaji mereka. Bahkan Hamas yang mengendalikan Jalur Gaza memerintahkan kantor pos tetap buka selama akhir pekan kemarin.


"Kebijakan Qatar untuk mendukung terus Palestina tidak perlu diragukan," kata Amadi.

Juru bicara Hamas, Abdul Latif al-Qanua menyatakan senang akhirnya bantuan Qatar bisa sampai dengan selamat, setelah negosiasi alot selama berbulan-bulan. Menurut dia, uang itu akan dipakai untuk membayar gaji PNS setempat dan membeli obat-obatan bagi para korban luka dalam unjuk rasa di perbatasan dengan Israel.

Perundingan untuk pemberian bantuan ke Jalur Gaza sudah dimulai beberapa bulan silam. Tepatnya tidak lama setelah Otoritas Palestina memutuskan memangkas gaji para PNS di Gaza tahun lalu. Hal itu dilakukan untuk menekan Hamas yang saat itu masih bersengketa dengan pesaing politiknya, Fatah.
Pada Juni lalu, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman dan Menteri Keuangan Qatar Muhammad bin Abdulrahman al-Thani bertemu di Cyprus membicarakan pengiriman bantuan itu.

Kelompok sayap kanan Israel diwakili oleh Menteri Pendidikan Naftali Bennett sangat menentang rencana itu. Dia menuding Perdana Menteri Benyamin Netanyahu bersikap lembut terhadap Hamas.

"Saya melakukan semua yang saya bisa, berkoordinasi dengan militer untuk menenangkan penduduk di selatan Israel, tapi juga untuk mencegah bencana kemanusiaan. Ini proses. Saya pikir ini saat ini adalah langkah yang tepat," kata Netanyahu.

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) juga menolak langkah Qatar dengan memberikan bantuan ke Gaza. Alasan mereka adalah hal itu akan semakin memperuncing perbedaan mereka dengan PLO.
"Cara Qatar membantu Hamas seperti penyelundup dan mafia. Sejak kapan Israel peduli dengan Hamas?," ujar anggota Komite Eksekutif PLO, Ahmad Majdalani. (ayp/ayp)