Perancis Tuduh Erdogan Politisasi Isu Khashoggi, Turki Murka

CNN Indonesia | Selasa, 13/11/2018 19:01 WIB
Perancis Tuduh Erdogan Politisasi Isu Khashoggi, Turki Murka Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Reuters/Umit Bektas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian menuding Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mempolitisasi penyelidikan pembunuhan Jamal Khashoggi, wartawan pengkritik Raja Salman.

Pernyataan itu diutarakan Le Drian setelah Erdogan mengaku telah memberikan rekaman yang diduga berisi percakapan pembunuhan Khashoggi kepada sejumlah negara seperti Arab Saudi, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Perancis.

Dalam wawancaranya bersama stasiun televisi France 2 pada Senin (12/11) kemarin, Le Drian mengaku belum mendapat informasi apa pun dari pemerintah Turki terkait kasus Khashoggi.


Ketika ditanya apakah ada kemungkinan Erdogan berdusta, Le Drian menyatakan 'Ini artinya dia (Erdogan) memiliki permainan politik yang tengah dijalankannya dalam situasi ini.'
Komentar itu pun sontak memicu amarah Turki. Direktur Komunikasi Kantor Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun, mengatakan tudingan Perancis itu tidak dapat diterima.

"Kami menganggap tidak bisa diterima ketika dia (Le Drian) menuding Presiden Erdogan 'bermain politik' dalam kasus ini," kata Altun kepada AFP, Selasa (13/11).

"Mari kita tidak lupa bahwa kasus ini tidak akan terungkap jika upaya Turki tidak gigih dalam menyelidiki kasus ini," lanjut Altun.

Menurut Altun, tudingan Le Drian tidak sesuai dengan fakta yang ada. Dia menuturkan selama ini Ankara telah berbagi sejumlah bukti penyelidikan dengan beberapa pejabat negara asing, termasuk Perancis.

Altun menyatakan seorang perwakilan intelijen Perancis juga sudah mendengarkan rekaman suara tersebut dan informasi lainnya, termasuk transkrip percakapan pada 24 Oktober lalu.
"Saya mengonfirmasi bahwa bukti yang berkaitan dengan pembunuhan Khashoggi juga telah dibagikan kepada badan-badan terkait Perancis," katanya.

"Jika ada miskomunikasi antar-instansi pemerintah Perancis, itu semua meyangkut otoritas Perancis sendiri, bukan Turki yang harus mengurus masalah itu," katanya.

Khashoggi merupakan warga Saudi yang lari ke AS setahun lalu demi menghindari kemungkinan ditangkap otoritas Saudi yang menganggapnya sebagai pembangkang.

Koresponden The Washington Post itu tewas di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu, setelah sebelumnya sempat dinyatakan hilang.

Meski semula menampik, Saudi akhirnya mengakui Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya. Namun, Riyadh membantah terlibat dalam konspirasi itu dengan mengatakan pembunuhan dilakukan di luar kewenangan mereka.
Hingga kini pembunuhan Khashoggi masih menjadi teka-teki Turki, di mana kepolisian masih belum bisa mengungkap detail pembunuhan dan keberadaan jasad Khashoggi yang dikabarkan telah dihancurkan oleh cairan asam setelah tewas dibunuh. (rds/ayp)