Seperti dilansir The Guardian, Jumat (21/12), kelompok perjuangan Suku Kurdi seperti Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Pasukan Penjaga Rakyat (YPG) selama ini menggelar operasi militer dibantu oleh Amerika Serikat. Mereka menyatakan sangat kecewa dengan keputusan penarikan pasukan AS untuk menghadapi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
"Perang terhadap ISIS belum selesai dan mereka juga belum kalah. Penarikan pasukan akan membuat kevakuman politik dan militer di wilayah itu, meninggalkan orang-orang Kurdi di tengah-tengah musuh," demikian pernyataan yang disampaikan SDF.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:FOTO: Pasukan AS Menghitung Hari di Suriah |
SDF dan YPG saat ini menghadapi tiga musuh. Yakni ISIS, pasukan Suriah, dan Turki. Mereka yang rata-rata menganut Nasrani dimusuhi ISIS. Sedangkan Suriah dan Turki menyatakan mereka sebagai pemberontak.
Hal ini membuat mereka terpaksa menarik pasukan dan memusatkannya ke perbatasan Turki. Pengerahan pasukan AS untuk membantu suku Kurdi juga sempat membuat Turki marah besar.
"Kami memang takut. Kalau AS pergi dan meninggalkan kami berhadapan dengan Turki, nasib kami akan seperti Republik Kurdistan di Irak pada 1991. Suriah, Iran, dan Turki enggan menerima kami," kata jurnalis asal Kurdi, Arin Sheikmos.
"Jika AS menyatakan hal itu maka itu keputusan yang tepat. Donald benar, saya setuju dengannya," kata Putin.
Kritik disampaikan oleh sejumlah kalangan di Kementerian Pertahanan AS. Mereka merasa keputusan Trump justru menguntungkan Rusia dan Iran.
Sumber di Kementerian Pertahanan AS menyatakan khawatir Suriah bakal menjadi ancaman sekutu mereka di Timur Tengah, Israel. Sebab, Iran yang menjadi musuh mereka bisa menggunakan Suriah sebagai basis untuk menyerang Negara Zionis.