ANALISIS

Jika Amerika Serikat Tak Bernafsu Lagi Jadi Polisi Dunia

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 21:37 WIB
Jika Amerika Serikat Tak Bernafsu Lagi Jadi Polisi Dunia Presiden AS Donald Trump memilih menarik pasukan di Suriah. Hal itu justru bisa menjadi keuntungan dan kerugian bagi negara lain. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tak pernah berhenti membuat kejutan selepas dilantik. Jelang tutup tahun dia menyatakan berencana menarik seluruh pasukan yang dikirim ke Suriah.

Hal ini membuat sekutu Negeri Abang Sama yakni Inggris dan Prancis sangat terkejut. Peta permainan di Suriah pun langsung berubah. Atas keputusan itu Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran, Hassan Rouhani tersenyum karena mereka sudah tak punya lawan kuat lagi di Suriah.

Trump juga sepertinya tak lama lagi bakal menarik setengah dari jumlah pasukan mereka di Afghanistan.


Melalui serangkaian cuitannya melalui media sosial Twitter, Trump menyatakan alasan mengapa dia melakukan hal itu.
Dia ingin mengakhiri permainan AS sebagai 'polisi dunia' yang sudah berjalan puluhan tahun. Banyak konsekuensi harus ditanggung dari kebijakan itu.

"Memangnya AS ingin menjadi polisi di Timur Tengah, dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali menghamburkan uang triliunan dan nyawa untuk melindungi pihak lain, yang sebagian justru tidak senang dengan apa yang kami lakukan? Apakah kami mau berada di sana selamanya? Sekarang waktunya memberikan yang lain kesempatan bertempur," cuit Trump beberapa waktu lalu.

Trump beralasan mereka berada di Suriah hanya untuk memerangi kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Di matanya ISIS sudah tumbang, maka dari itu buat apa berlama-lama berada di sana. Menteri Pertahanan James Mattis memilih mundur setelah berbeda pendapat dengan Trump.

"Ini enggak adil kalau semua bertumpu kepada kami. Kami enggak mau dimanfaatkan oleh negara-negara yang menggunakan angkatan bersenjata kita untuk melindungi diri mereka. Mereka enggak bayar dan dan seharusnya melakukan itu," ujar Trump di sela-sela kunjungan mendadak di Irak pada.
Iring-iringan pasukan Amerika Serikat di Suriah. (DELIL SOULEIMAN / AFP)
"Pasukan kami tersebar di hampir seluruh dunia. Kami ada di negara-negara yang orang tidak pernah dengar sebelumnya. Terus terang itu konyol," sambung Trump.

Sejak dilantik, Trump ngotot menjalankan program America's First. Sebagai pebisnis, naluri hitungan untung ruginya dipakai dalam menghasilkan kebijakan dalam dan luar negeri. Hanya saja sejumlah negara selama ini telah bergantung kepada militer AS untuk menghadapi pemberontak atau bahkan teroris.

Contohnya Afghanistan. Dengan menggebu-gebu AS menyerbu negara itu pada 2011 dengan dalih menggempur Taliban yang dianggap bersekongkol dengan Al-Qaidah dan menyembunyikan mendiang Usamah bin Ladin. Sudah 17 tahun berlalu, ternyata Taliban tak kunjung tunduk.

AS punya banyak teman, tetapi jumlah musuhnya juga tak kalah bejibun. Tengok juga Libya dan Irak yang kini berantakan karena campur tangan militer AS, dengan alasan menumbangkan rezim diktator. Tingkat kekerasan di sana cukup tinggi, bahkan ada ungkapan 'tiada hari tanpa bom.'
Prajurit AS di Afghanistan. (REUTERS/POOL//Earnie Grafton)
Di sisi lain, perang juga merenggut nyawa muda-mudi AS. Sebagian pulang dengan selamat, lainnya harus menanggung menjadi cacat akibat luka dalam pertempuran.

Di sini Trump berpikir ada baiknya menghemat uang negara ketimbang perang tidak jelas hasilnya di negeri orang. Toh di dalam negeri juga mereka mengalami masalah pengangguran, gelombang pendatang dan kemiskinan yang tak kalah merepotkan. Industri mereka harus bersaing lebih ketat di pasar.

Kehadiran AS melalui militer bak pisau bermata dua. Mereka memang membuat kondisi di sebagian wilayah relatif stabil karena keberadaan senjata-senjata canggih. Namun, keputusan Trump juga memicu kekhawatiran kelompok ekstremis akan bangkit.

"Tidak butuh imajinasi lebih untuk membayangkan stabilitas digantikan dengan kekacauan. Ribuan orang bisa kocar-kacir jika salah ambil keputusan," kata Kepala Komite Relawan Dunia, David Miliband.
Hal ini menjadi simalakama. Namun, keputusan harus diambil. Geopolitik bisa dipastikan berubah jika memang AS benar-benar ingin menyudahi peran sebagai polisi dunia. (ayp/ayp)