Menlu Bantah Saudi Krisis Akibat Kasus Khashoggi

ulf & AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 29/12/2018 20:50 WIB
Menlu Bantah Saudi Krisis Akibat Kasus Khashoggi Menteri Luar Negeri Arab Saudi Ibrahim al-Assaf menyatakan perombakan kabinet bukan dipicu kasus pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi. (REUTERS/Faisal Al Nasser)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Arab Saudi Ibrahim al-Assaf menyangkal negaranya dalam krisis setelah menerima sorotan tajam dunia internasional terkait kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Turki. Khashoggi merupakan wartawan pengkritik Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS).

Assaf sendiri baru saja dilantik menjadi Menteri Luar Negeri Arab Saudi pada Kamis (27/12) menggantikan Adel al Jubeir. Assaf sebelumnya menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Perombakan jajaran Kabinet Arab Saudi itu cukup mengejutkan. Beberapa pihak menilai reshuffle ini ditujukan untuk memperkuat posisi dan kebijakan Pangeran MbS setelah Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA) menyimpulkan bahwa Pangeran MbS yang memerintahkan pembunuhan tersebut.


Menyanggah segala tudingan tersebut, Assaf menegaskan restrukturisasi kabinet bukan dimotivasi oleh kasus Khasogi, namun untuk efisiensi pemerintahan.

"Secara keseluruhan, kami tidak akan melalui krisis, kami akan melalui transformasi," kata Assaf dalam wawancara bersama AFP, dikutip Sabtu (29/12). Transformasi yang dimaksud Assaf adalah reformasi sosial dan ekonomi yang dipelopori oleh putra mahkota.

Kebijakan Luar Negeri Agresif

Assaf mewarisi posisi Menteri Luar Negeri di tengah berbagai kebijakan luar negeri agresif Pangeran MbS. Selain kasus Khasogi, Pangeran MbS menjadi sorotan akibat hubungan diplomatik yang memanas dengan Qatar, kampanye militer di Yaman, dan pertikaian diplomatik antara Arab Saudi dan Kanada.

Kasus pembunuhan Khasogi sendiri mengancam hubungan sekutu antara Arab Saudi dan Amerika Serikat. Kendati demikian, Assaf menyatakan tantangannya sebagai Menteri Luar Negeri Arab Saudi yang baru bukanlah memperbaiki reputasi kerajaan yang ternoda.

"Saya tidak akan mengatakan 'perbaikan' karena hubungan antara Arab Saudi dan sebagian besar negara di dunia dalam kondisi sangat baik," jelasnya.

Assaf juga menampik bahwa lengsernya Jubeir sebagai Menteri Luar Negeri dikarenakan gagal dalam memadamkan kritik dunia internasional kepada Arab Saudi khususnya Pangeran MbS akibat kematian Khasogi.

Analis kebijakan RAND Corporation Becca Wasser menilai keputusan Raja Salman untuk menempatkan Assaf dalam kabinet adalah upaya untuk mengembalikan sesepuh yang berpengalaman. Keberadaan orang-orang tersebut kadang dikesampingkan oleh Pangeran MbS.

"Raja Salman berusaha untuk memperkuat putranya dengan menunjuk para teknokrat berpengalaman seperti Assaf yang bukan dari lingkaran dalam MbS, secara tidak langsung mengembalikan sistem internal checks and balances yang tersapu dalam kebijakan MbS," kata Becca.

Di sisi lain, Assaf memiliki kemampuan ekonomi lantaran menjadi anggota dewan perusahaan minyak raksasa, Saudi Aramco. Pengalaman itu diyakini akan membantunya dalam hubungan global yang saat ini masih dirundung gejolak ekonomi.

Terlebih, saat ini negara-negara eksportir utama minyak mentah tengah menghadapi penurunan tajam harga minyak, sehingga mereka berebut untuk mengembalikan kepercayaan investor asing.

"Hubungan ekonomi sekarang mendominasi urusan luar negeri,"kataAssaf.
 
(wis)