Kasus Khashoggi, Raja Salman Minta Intelijen Saudi Dirombak

CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 14:55 WIB
Kasus Khashoggi, Raja Salman Minta Intelijen Saudi Dirombak Ilustrasi. (Jim WATSON/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kerajaan Arab Saudi menyatakan mereka bakal membentuk badan khusus buat mengawasi kegiatan intelijen. Mereka mengklaim hal itu dilakukan selepas kasus dugaan pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi pada 2 Oktober lalu di konsulat mereka di Istanbul, Turki.

Seperti dilansir AFP, Jumat (21/12), perintah itu disampaikan langsung oleh Raja Salman. Dia meminta anaknya, Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman untuk memimpin restrukturisasi badan mata-mata Saudi. Sebab mereka menjadi sasaran dan dituduh terlibat langsung, meski mereka menyangkal.

Komite restrukturisasi yang dipimpin Pangeran Mohammed menyetujui pembentukan tiga departemen, untuk memastikan operasi intelijen sejalan dengan kebijakan kerajaan. Hanya saja mereka tidak menyatakan langkah itu diambil terkait kasus Khashoggi.


Kerajaan Saudi mengklaim operasi pembunuhan terhadap Khasoggi dipimpin oleh Wakil Kepala Badan Intelijen Ahmad al-Assiri dan penasihat kerajaan, Saud al-Qahtani. Keduanya saat ini sudah ditahan.

Pembunuhan Khashoggi membuat posisi Saudi terpojok, karena mereka dianggap sebagai lambang rezim diktator yang anti-kritik. Hal itu juga menjadikan daya tawar diplomasi mereka semakin rendah.

Belum lagi keterlibatan mereka dalam perang sipil di Yaman. Sebab sampai saat ini proses perundingan damai dengan kelompok pemberontak Houthi berjalan alot.

Sekutu Saudi, Amerika Serikat juga diminta oleh senat menghentikan bantuan militer dalam perang di Yaman. Namun, Saudi mengecam hal itu.

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan sudah menarik simpulan bahwa Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, memerintahkan langsung pembunuhan ini.

CIA menarik simpulan ini setelah menggali berbagai sumber intelijen, termasuk panggilan telepon antara Khashoggi dan Duta Besar Saudi yang juga adik dari putra mahkota, Khalid bin Salman.

Intelijen Turki terus membocorkan berbagai rincian hasil penyelidikan mereka, termasuk bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh satu tim beranggota 15 orang yang dikirim langsung dari Saudi.

Kelima belas orang itu sudah ditangkap oleh otoritas Saudi. Turki pun meminta agar para tersangka itu diekstradisi ke negaranya, tapi Saudi menolak. (ayp/ayp)